Selasa, 13 Desember 2016

NEGERI TELENOVELA

Ahok nangis di sidang..
Dan ributlah jagad media dengan segala argumentasi dan teorinya. Yang pro termehek-mehek ketika ditampilkan Ahok sedang dipeluk kakak angkat perempuannya yang berjilbab. Yang kontra terbelek-belek dan langsung membandingkan tangisan Ahok dengan tangisan warga yang digusur - yang saya juga gak ngerti apa hubungannya ya?.

Tidak equil to equil perbandingannya..
Menarik memang melihat sebagian besar reaksi masyarakat kita yang tertarik pada simbol-simbol dalam sebuah peristiwa. Ingat masalah kancing jas Jokowi, yang bahkan penduduk planet Mars pun akhirnya menonton kita saking hebohnya.. Belum lagi kehebohan akibat jas bomber dan payung biru.
Terbaginya negara ini menjadi 2 kubu, kubu pro dan kontra, menjadikan ada saja bahan untuk meledek atau menjatuhkan mental lawannya. Sepertinya gak puas kalo yang sebelah sana ga cemberut. Memang ini yang menjadikan media sosial berwarna, meski kadang sebel juga memperhatikan tingkat kelebayan yang sudah masuk di level 9.

Saya berdoa kepada Tuhan supaya Ahok jangan sampe kentut di sidang. Pasti akan lebih rame lagi. Yang pro dengan segala teorinya akan membahas bahwa kentut adalah hal yang wajar dan terjadi pada setiap manusia, bahkan yang cantik seperti Raisa sekalipun pasti kentut meski suka ditahan..
Yang kontra akan membandingkan kentut Ahok dengan kentut mereka yang digusur, mengupload foto ibu-ibu yang terkentut-kentut ketika diseret Pol PP dan membuat status dengan huruf kapital, "LEBIH BAU MANA KENTUTMU DENGAN KENTUT MEREKA?".

Kembali mereka dengan logika anehnya, ya namanya kentut baunya sama aja.. tinggal masalah jarak aja pembedanya, semakin dekat semakin terasa..
 
Ah, Indonesia.. negeri telenovela, yang kalau tidak berseri kasusnya, seperti kurang gula saja rasanya.
Mending ngopi.. sambil ngentut. Kalau saya bebas, gak ada yang peduli..