Rabu, 28 Desember 2016

Secangkir Kopi Tentang Tuhan yang Beranak

Beranak
Cahaya
Masih kenceng aja komen di postingan "Tuhan yang beranak..". Dan dari sekian komen, saya menemukan banyak kesalah-pahaman karena tidak mampu memisahkan teks dengan konteks. Dalam artian, tidak mampu memisahkan kelahiran Yesus - yang di Islam dikenal dengan Isa al masih as - dengan penyebutan "anak Tuhan".

Disinilah mungkin masalahnya..
Kelahiran Yesus -begitu juga tertera dalam Alquran- sama seperti kelahiran manusia pada umumnya, melalui persalinan bunda Maryam yang suci. Hanya bedanya tidak ada yang mengetahui siapa "ayah" darinya. Di dalam Islam - sama dengan Kristen juga - kelahiran Yesus atau Isa al Masih as tanpa ayah adalah sebuah mukjijat.

Tidak perlu bertanya tentang mukjijat Tuhan, karena Tuhan mempunyai maksud tersendiri dengan kelahiran tanpa ayah tersebut. Sama seperti Tuhan menciptakan mukjijat berupa laut yang terbelah pada masa Nabi Musa as, diyakini dengan benar sebagai mukjijat tanpa pertanyaan.
Nah, inilah proses kelahirannya. Jangan nanya lagi siapa bidannya ya. Itu - maaf - pertanyaan yang sangat @$#©¥€®.

Proses kelahiran itu berbeda dengan penyebutan umat Kristen terhadap Yesus dengan kiasan "anak Tuhan". Seperti yang sudah awal dijelaskan itu bahasa pendekatan yang menggambarkan keagungan penyatuan kesucian dari sesuatu yang suci ke Maha suci.

Jadi, tolong bedakan proses kelahirannya dengan bahasa pendekatannya. Menyatukan keduanya dalam satu pemahaman jelas tidak equil to equil - apple to apple sudah terlalu mainstream.

Disini saya bukan membela umat Kristen atau mendadak menjadi Kristen, tapi memberi pemahaman sesuai apa yang saya pahami sesudah berbincang banyak dengan seoramg teman Kristen yang sangat memahami agamanya.

Buat saya, memahami sudut pandang orang yang berbeda itu menarik untuk mencari persamaannya bukan untuk memperlebar perbedaan. Dan - Alhamdulilah - ilmu saya jadi bertambah ketika mau bertanya dengan ketidak-tahuan, bukan bertanya dengan nada sok tahu.

Ini penjelasan hanya untuk mereka yang mau mencoba memahami sekitarnya, bukan untuk mereka yang menutup akal berfikirnya.

Dan saya tidak mau berdebat, karena kata Imam Ali as, "Membuktikan kebenaran kepada orang bodoh itu mudah. Yang susah adalah membuat mereka menerimanya.."

Jadi, bagaimana kalau kita seruput kopi sore hari? Bicara agama itu sebetulnya sangat asyik jika tidak pakai kacamata onta.. eh, kuda maksudnya.. Serumfuttttt...