Sabtu, 03 Desember 2016

Teman-temanku Pembela Islam

Pembela Islam
Arogansi
Teman-temanku itu lucu-lucu orangnya. Ada yang pemain proyek kotor. Suap sana suap sini seakan sudah jadi tradisi. Karaoke plus plus adalah tempat bermain bersama pejabat-pejabat kecil yang seiring. Jika bertemu obrolannya selalu tentang materi.

Hari itu dia pasang foto dengan status "berangkat membela agama dari nistaan orang kafir". Ada juga yang kerjaannya tipsani, tipu sana sini. Tanpa pekerjaan tetap yang sesuai kompetensi. Kadang waktu bertemu tampak kaya dan seringkali mengeluh sedang miskin. Dicari dimana-mana sembunyi kesana kemari.

Hari itu dia pasang foto dengan daster putih-putih. "Sudah saatnya membela agama Allah. Takbir.. takbir.."

Ada juga teman wanita yang cantik. Sebelumnya bebas merdeka dengan kehidupan yang borjuis. Baru beberapa bulan menutup dirinya dengan kerudung modis. Statusnya beberapa saat penuh ayat-ayat suci. Dan sekarang selalu berbau politik agamis.

"Sudah saatnya kebenaran diteriakkan dan si penista dipenjarakan !" Tulisnya bergelora disambut komen-komen takbir.
 
Aku tersenyum membacanya. Aku kenal mereka seperti mereka kenal diriku. Ingin kusampaikan, "Yang ingin kalian bela itu jauh lebih besar dan jauh lebih kuat dari kalian. Ia tidak mungkin nista, karena siapa yang mampu menistakan kesuciannya? Ia tidak mungkin hina, karena kehinaan hanyalah milik manusia. Jika kita ini adalah sumber hina, kenapa tidak sibuk mensucikan diri kita?".

Tapi yah, mana mungkin mereka mendengarku. Aku sudah dianggap berbeda di mata mereka. Manusia oh manusia.

Kenapa perilaku kalian itu selalu menggemaskan, seperti balita yang sedang belajar berjalan ?
Lebih baik aku duduk sambil menyeruput secangkir kopi sasetan.