Sabtu, 03 Desember 2016

Terima Kasih Pak Tito dan POLRI

Kapolri
Kapolri
Banyak yang mengirimkan gambar ke saya tentang aksi 411 & 212 dengan tambahan ejekan bahwa "Ini bukti bahwa Islam cinta damai.."
 
Entah apa pikiran mereka, dipikirnya saya benci dengan agama saya sendiri. Justru saya sangat cinta bukan saja kepada agama saya sendiri tetapi kepada saudara-saudara saya yang sedang ada disana. Karena itu saya selalu memberikan peringatan "hati-hati", yang ditafsirkan oleh mereka dengan mengejek.

Seharusnya kita sangat bersyukur bahwa tidak terjadi apa-apa dalam acara itu. Kita semua. Seandainya mereka tahu, bahwa berlangsungnya situasi aman saat itu, tidak lepas dari kerja keras Kapolri dan semua jajarannya yang bekerja dalam senyap dan tidak perlu publikasi.
 
Mereka mengamankan begitu banyak ancaman, senjata-senjata yang ingin disusupkan dan bom-bom yang ingin diledakkan di tengah demonstran. Hanya saja ini memang sengaja tidak dipublikasikan supaya masyakarat tidak bertambah panik.
 
Mereka melakukan banyak antisipasi, kerja begadang bermalam-malam, berfikir banyak kemungkinan, termasuk mengejar para pelaku potensial yang mempunyai kemungkinan menyusup di dalam barisan demonstran. Mereka paham bahwa ketika keadaan buruk terjadi, merekalah yang pertama kali disalahkan.

Pesta dalam bentuk aksi damai itu adalah perhelatan besar yang penyelenggara keamanannya adalah Polri. Pertaruhan besar pak Tito bahwa semua harus dalam kondisi aman, sehingga Presiden bisa masuk ke tengah barisan.

Ribuan polisi menyamar di tengah demonstran, mereka memantau segala hal yang tampak mencurigakan. Sedangkan di luar, pasukan siap mengantisipasi segala kemungkinan. Anda bisa bayangkan kerja keras itu, yang sama sekali tidak berharap mendapat pujian.

Begitu banyak informasi masuk ke saya dengan segala teori yang menakutkan. Meski begitu saya terus bercanda, supaya semua terlihat biasa sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.

Dan ketika semua selesai, saya pun terduduk dengan lelah dan syukur tak habis-habisnya dalam dada. Saya membayangkan semua pejuang tanpa pujian itu dalam posisi yang sama. Kita sudah melewati situasi tergenting sesudah peristiwa 98.

Saya sebenarnya tidak ingin mengungkapkan ini. Tetapi karena badai sudah berlalu, tidak layak ketika saya tidak mengucapkan sedikitpun terimakasih atas kerja baik aparat kita.
 
Biarlah mereka mengejek ketika semua berlangsung dalam keadaan aman. Itu lebih baik daripada mereka marah ketika terjadi peristiwa yang -mungkin- bisa menghilangkan nyawa keluarga, saudara dan teman mereka. Dan lebih buruk lagi adalah kerusuhan di negara kita.
 
Untuk Pak Tito Karnavian dan seluruh jajaran Polri, untuk seorang teman yang ada disana, terima kasih.

Izinkan saya menuangkan secangkir kopi malam ini. Sungguh, Tuhan Maha Pengasih pada negeri ini dengan adanya orang-orang baik yang berbakti tanpa harus dipuji.