Selasa, 27 Desember 2016

Tipu-tipu Donasi Untuk Suriah

Terorisme
Terorisme
Sudah sejak lama saya memperhatikan lembaga-lembaga donasi yang mengatas-namakan Suriah. Tanpa disadari oleh para donatur yang ikhlas, beberapa lembaga amal menjual Suriah untuk mengumpulkan dana dari masyarakat Indonesia, mengatas-namakan Islam dan negara, tetapi sumbangan disalurkan ke pihak yang salah.

Ciri-ciri mereka adalah menjual kepedihan rakyat Suriah. Foto-foto anak kecil yang kelaparan, korban-korban tewas dan sebagainya adalah jualan mereka. Memang banyak orang kelaparan dan korban tewas di Suriah, tapi masalahnya itu korban siapa?

Menyumbang ke Suriah harus paham dulu perang Suriah. Perang Suriah dimulai ketika ada pemberontakan yang diprakarsai Al-Qaeda dengan banyak nama. Dan yang terkenal adalah FSA atau Free Syrian Army. FSA ini berujuan mengganti pemerintahan Suriah yang dikuasai pemerintahan yang sah yaitu Bashar Assad.

Bashar Assad ingin di Khaddafi-kan seiring bergolaknya Arab Spring di Timur Tengah. Para pemberontak bahkan membuat bendera sendiri dan susunan pemerintahan sendiri, lalu mereka keliling dunia mencari donasi untuk kegiatan mereka, bukan untuk membantu warga Suriah yang menjadi korban perang.

Caranya adalah dengan menjual kepedihan rakyat Suriah yang menjadi korban. Dibuatlah cerita seolah-olah Bashar Assad lah yang tokoh keji, padahal yang keji adalah mereka.

Kedok para pemberontak terbongkar luas ketika Aleppo dibebaskan dari mereka. Rakyat Suriah menyambut gembira pembebasan Aleppo oleh tentara resmi Suriah. Jadi disini bisa dilihat, rakyat berpihak pada siapa ? Pada para pemberontak atau tentara Suriah?

Sudah sejak lama donasi dari Indonesia mengalir ke tangan pemberontak Suriah, melalui badan amal di Indonesia yang bekerjasama dengan badan amal luar negeri yang mendukung pemberontak.

Tanpa disadari banyak orang di Indonesia, donasi yang mereka salurkan untuk kemanusiaan ternyata malah disalurkan untuk mendukung supply makanan pemberontak. Bukti ini terlihat ketika Aleppo bebas dan rakyat Suriah menyerbu gudang makanan pemberontak yang penuh dengan bantuan dari Indonesia..

Inilah yang menjadi masalah, seolah-olah rakyat Indonesia mendukung pemberontakan dan kekejian di Suriah. Tidak banyak yang tahu situasi ini karena memang sengaja ditutupi rapat-rapat.

Bahkan, menurut sebuah sumber, donasi itu juga dikumpulkan dengan di mall-mall, di jalan-jalan dengan nama yayasan yatim piatu. Hasilnya disalurkan ke penadah dan disalurkan ke Suriah untuk mendukung pemberontak. Pantas saja para pemberontak itu bertahan sekian lama dengan bantuan senjata dari negara barat dan supply makanan dari donatur yang memang perduli pada kemanusiaan.

Ini memang kerja berat untuk institusi Polri mengejar dan membuka topeng mereka. Harus ada audit independen kemana dana itu disalurkan. Karena mendukung pemberontak adalah hal yang salah.

Situasi ini bisa saja terjadi di negara kita, ketika dana-dana disalurkan dengan nama kemanusiaan dari seluruh dunia, tetapi digunakan sepenuhnya untuk mengkudeta pemerintahan Jokowi. Arus balik ini tercipta ketika ada simbiosis mutualisma antara pemberontak dan penyalur donasi.

Perhatikan saja, mana mungkin teroris Suriah kenal dengan Ahok sehingga mereka harus membuat pamflet di Suriah dengan tulisan "Penjarakan Ahok". Jelas ada hubungan terkait antara teroris Suriah dengan penyalur donasi disini..

Segera sertifikasi dengan benar lembaga-lembaga donasi itu dibawah pemerintah Indonesia, karena dari merekalah keuangan teroris dan radikalis beredar.

Jika pemerintah dan Polri tidak bertindak mulai sekarang, niscaya satu waktu kita akan minum kopi pahit seperti Suriah. Percayalah...