Rabu, 14 Desember 2016

VIVA BASHAR

"Terima kasih, Bashar.. terima kasih.."
Begitu sorak sorai warga Aleppo ketika akhirnya kota mereka dibersihkan dari kelompok ekstrim berbaju agama.

Kota terbesar kedua di Suriah -seperti Surabaya- itu selama 4 tahun hidup dalam ketakutan dibawah penerapan "syariat Islam" versi kaum radikal. Penculikan, pemenggalan, dibakar hidup2 adalah makanan sehari-sehari.

Makanan begitu sulit sehingga banyak yang mencari di tumpukan sampah. Korban terbesar adalah anak2 yang trauma melihat kekejian di sekitarnya. Sniper dimana2, sehingga untuk keluar rumah sekedar mencari makanpun harus bertaruh nyawa.
 
Situasi bertambah parah ketika pasukan pemerintah Bashar Assad masuk ingin membebaskan kota itu. Selain pertempuran yang ketat karena melawan ratusan ribu pasukan musuh dari berbagai negara, fitnah yang dibangun oleh media internasional seperti CNN, Al-Jazeera dsbnya membuat Bashar kehilangan legitimasinya di dunia internasional.
 
Setiap kali pasukan pemerintah memukul lawan, maka tersebarlah foto2 "kekejaman" Bashar Assad ke seluruh dunia. Playing victim, adalah senjata mematikan tersendiri. Apalagi ditambah kaum radikal itu bersembunyi di rumah2 penduduk dan menjadikan mereka sebagai tameng hidup supaya tidak digempur.
 
Rusia dan Hizbullah akhirnya turun membantu Bashar Assad atas permintaan pribadinya. Bashar tidak meminta bantuan kepada NATO, karena ia tahu bahwa Amerika ada di balik ini semua.
Parahnya, AS pun masuk seolah2 membantu tapi sesungguhnya mengacaukan dengan pemboman kepada tentara pemerintah dengan bahasa "salah sasaran". Mereka juga menerjunkan obat2an dan amunisi ke wilayah tempur yang malah dimanfaatkan oleh para pemberontak dengan alasan yang sama, salah kirim.
 
Aleppo dulu adalah kota yang indah - sering disebut Parisnya Suriah. Bangunan2 bersejarah berusia ribuan tahun banyak disana, dan kini hancur lebur karena perang dan dihancurkan sebab dianggap berhala.
 
Warga Aleppo awalnya sering melakukan demo besar menuntut turunnya Bashar Assad. Mereka tidak sadar ditunggangi oleh banyak kepentingan dan baru paham ketika pada akhirnya mereka harus hidup dibawah tekanan gerombolan yang dulu mereka bela.
 
Dari peristiwa bebasnya Aleppo ada banyak pelajaran yang diambil masyarakatnya sendiri dan itu mahal harganya. Bashar akhirnya mereka terima kembali sebagai pemimpin sesudah mereka merasakan bahwa ia hanyalah korban fitnah yang dirancang oleh kelompok internasional untuk merebut keseluruhan Suriah.
 
Terima kasih Bashar. Terima kasih Putin. Terima kasih Hizbullah...
Aleppo kembali bebas dan sekarang memulai kembali membangun reruntuhan dari awal. Semoga kita bisa lebih cerdas dari warga Suriah.
 
Seruput dulu untuk warga Aleppo dan Viva Bashar !