Senin, 02 Januari 2017

Klaten yang Mbulet

OTT
KPK Tangkap Bupati Klaten
Mau tahu mbuletnya kepemimpinan di Klaten?
Seorang bupati mempunyai wakil. Ketika bupati tidak menjabat, wakilnya jadi bupati dan istri bupati jadi wakilnya. Akhirnya si istri bupati yang tadi wakil kemudian menjadi bupati dan istri si wakil kemudian jadi wakilnya istri si bupati.

Puyeng? Pegangan dong..
Jadi, pemimpin Klaten itu dari si entuh ke si onoh muter2 aja disana, saling berbagi antar 2 pasangan. Kalau istilah kerennya "Swinger". Itu belum persiapan anak-anak mereka yang akan berbagi juga nantinya. Kalau sudah lebih dari 2 pasangan, istilah kerennya berganti menjadi "Orgy".
Darimana mereka cari makan untuk membiayai pemilihan mereka ?

Dari fee lelang proyek, itu sudah pasti. Dan terbanyak dari jual jabatan dan kenaikan pangkat PNS. Mereka mematok tarif mulai 50 juta sampai 100 juta. Itu standard short time. Kalau pengen long time dan plus plus ada mandi kucingnya, tarifnya tentu jauh lebih tinggi.

Begitulah cara hidup mereka selama ini. Terus menerus mengisi hidupnya dengan kekuasaan yang berujung pada uang. Harta dan kekuasaan itu memang manis - malah sangat manis-, sehingga mereka yang terus menerus haus untuk menyeruputnya lupa bahwa terlalu manis membawa penyakit juga. Diabetes-lah akhirnya...

KPK pun datang menangkap acara jual beli jabatan itu. Dan menangislah sang istri bupati yang akhirnya menjadi bupati itu. Menangis, karena harta total 35 miliar hasil jualan lendir selama belasan tahun itu terancam disita dan mereka dimiskinkan.

Politik dinasti memang rentan sekali korupsi, karena untuk mempertahankan jabatan yang bisa beranak pinak juga tidak murah. Politik dinasti ini juga didukung oleh unsur-unsur dibawahnya, mereka membangun kroni bersama dan menerapkan konsep simbiosis mutualisma. Elu dukung gua, gua dukung elu. Saling mengangkat pantat lah, istilah gaulnya..

Yang anehnya, rakyat ya terus memilihnya meski mereka - seharusnya - sadar ada sesuatu yang salah.
Kenapa bisa begitu ?

Karena mereka juga dipelihara dengan sumbangan2 melalui ormas2 agama dan majelis2 yang mempunyai pengikut banyak. Para pengikut ini karena sudah kadung taklid buta pada para pemuka agama mereka, ya manut aja kayak kerbau di cocok hidungnya.

Yang gembira ria ya pemuka agama mereka, karena mereka langsung terima duitnya - bisa buat beli pajero baru. Sedangkan rakyat yang dibodohi dan mau tetap dibodohi, tetap saja lapar dan berguru kepada pemuka agama, sembari minta didoakan supaya Tuhan bisa mengubah nasib mereka.

Lingkaran kebodohan massal ini menjadi dominan karena banyaknya kepentingan. Sedangkan suara2 yang ingin teriak, cenderung lemah karena terus diintimidasi.

Ah, dunia... Terkadang secangkir kopi di warkop seharga tiga rebuan, jauh lebih nikmat daripada hidup hanya sibuk mengejar harta dan jabatan..
"Bu, kopinya tambah.."
"Iya, habis itu tolong nyingkir ya nak.. kamu 3 jam duduk disini, cuman minum secangkir doang. Rugi ibu, nakkk.. rugii.. "