Minggu, 01 Januari 2017

Pemimpin yang Bercerita

Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi
Pintunya digedor keras dari luar pada tengah malam..
Saefudin sontak kaget. Dia membuka pintu rumahnya yang reot dan terbelalak melihat beberapa anggota brimob di depan pintunya sambil berkata keras, "Kami menduga rumah bapak jadi tempat persembunyian teroris.."

Anggota brimob langsung masuk ke dalam rumah dan menggeledah seisi rumah. Saefudin jelas ketakutan dan terus menyangkal dengan suara gemetar kalau dia menyembunyikan teroris.
Tiba2 masuklah seseorang yang dia kenal. Kang Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta dengan ketawa khasnya membopong beras sekantung. Langsung saja suasana mendadak ceria dan semua saling berteriak, "Selamat tahun baru !!"

Saefudin lega bukan kepalang. Apalagi Kang Dedi memberinya uang 10 juta rupiah untuk modal kerja.

Sudah bukan masanya lagi model pendekatan kepada warga menggunakan spanduk dan billboard besar di jalan-jalan. Apalagi dengan posisi yang itu-itu saja, menangkupkan kedua tangan di dada seolah berpesan "semua datang dari hatinya" dan biasanya bajunya putih bersih menunjukkan kesucian.

Itu IKLAN. Dan iklan biasanya hanya menampilkan yang baik-baik saja, tidak ada cacatnya..
Yang lagi trend sekarang, para pemimpin dan calon pemimpin melakukan marketing komunikasi atau relasi publik. Mereka langsung bersentuhan dengan masyarakat, berbicara dengannya dan menyentuh emosinya. Persis seperti yang ditulis Al dan Laura Rise dalam bukunya "The Death of advertising and the rise of PR"

Beberapa pemimpin yang berhasil melakukan ini seperti Jokowi dan Ahok tidak saja menggunakan media sosial seperti sebagai media komunikasinya, tapi langsung menyentuh ke lapisan masyarakat dengan berkunjung ke tempat mereka.

Perhatikan saja, mereka sangat jarang sekali memainkan media luar ruang seperti billboard dan spanduk yang menampakkan wajahnya.

Jadi apa yang dilakukan Kang Dedi ini menarik. Ia mengambil momen penggerebekan teroris dan tahun baru untuk menyentuh sisi emosi masyarakatnya. Harus kreatif memang dalam menampilkan diri, karena standar mereka juga mulai meninggi. Kerja saja tanpa ada sisi humanis yang ditampilkan seperti makan sayur tanpa celana dalam.. eh, tanpa garam.

Selamat datang di era baru "pemimpin yang bercerita", bukan pemimpin yang menangis dan prihatin saja. Mereka yang tidak mau berubah dan tetap menggunakan gaya orde baru, pasti akan tergilas masa.
Tok tok tok...
"Eh Kang Dedi, kok tiba2 mampir ke rumah saya yang reot ? Apakah mau ngasih uang 10 juta juga ???"
"Ngga, cuman mau nanya... situ dulu lahiran bidannya siapa ?"
Cemberut...