Kamis, 26 Januari 2017

Purwakarta, Desa Galia di Jawa Barat

Toleransi
Dedy Mulyadi
Ketika saya bicara tentang sosok Dedi Mulyadi, banyak yang mengira saya sedang kampanye. Tuduhan yang wajar karena Jawa barat sebentar lagi akan menghadapi momen pilkada. Tapi, ya dari dulu saya emang selalu jadi tertuduh. Dukung Ahok, dituduh buzzer. Dukung Jokowi, dituduh penjilat. Seolah saya gak boleh dukung siapapun, tapi mereka boleh.

Boleh dong saya kagum ma Kang Dedi. Bayangkan, daerah pimpinannya Purwakarta, ada di provinsi Jawa Barat - yang menurut banyak survey adalah provinsi paling tinggi kejadian intoleransi di Indonesia.

Purwakarta itu anomali di Jawa barat, kata saya kepada seorang teman. Ia seperti daerah yang kesepian, karena berbeda dengan kota dan kabupaten di sana. Mirip desa Galia di komik Asterix & Obelix.

Di Purwakarta kebhinekaan diperjuangkan, diajarkan dan dikembalikan fungsinya. Tidak seperti banyak pemimpin lainnya, Kang Dedi benar2 melawan sikap intoleransi dengan membenahi pondasinya.

Kalau pemimpin lain, ketika ada kejadian intoleran baru muncul bak pahlawan kesiangan sekedar mencari nama. Kang Dedi tidak. Ia benar2 masuk pada akar masalah dan membenahinya. "Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalau mengobati berarti pernah terluka.."

Seperti salah satu program yang saya baca di page resminya..
Ia meluncurkan kendaraan untuk menjemput anak sekolah, supaya mereka yang tinggal di sudut kampung tidak perlu berjalan kaki jauh ke sekolahnya.

Kalau hanya program mobil jemputan sekolah, itu biasa. Banyak pemimpin daerah yang sudah melakukannya..

Tapi ide Kang Dedi ini unik. Ia bekerjasama dengan Kodim -dengan tentara- yang menjadi supir angkutan sekolah gratis itu. Dan apa yang dilakukan anggota Kodim? Mereka sambil menyupir mengajarkan Pancasila, cinta dan bela negara, toleransi, kecintaan pada sesama dan banyak hal yang sudah mulai hilang di Jawa barat.

Ia menerapkan konsep "bela negara" langsung pada pusat masalahnya, pada anak2 yang sedang berkembang akalnya, generasi masa depan kita.

Doktrin tentang kecintaan pada negara ini sangat penting - terutama pada generasi muda - karena di banyak tempat di Jawa barat, mereka juga sedang di doktrin dengan kebencian terhadap sesama dan negara dengan memakai baju agama.

Ini ide yang patut dicontoh di banyak daerah. Purwakarta bisa dijadikan pusat percontohan bagaimana melawan intoleranisme yang mewabah di negara kita.

Perlawanan Kang Dedi tentu bukan tanpa resiko. Ia sering di fitnah musrik, syirik, kirik dan banyak trik lainnya. Siapa yang menuding begitu? Ya, siapa lagi kalo bukan FPI Purwakarta yang kemaren bikin bàliho besar yang viral, "Sehelai rambut Habib Rizieq jatuh.."

Dengan program2nya yang orisinil seperti ini, wajar dong saya mendukung dia. Karena pemimpin itu bukan dilihat dari seberapa ganteng dan gagahnya dia, tetapi dari apa yang dia kerjakan..

Dedi Mulyadi seperti memberontak terhadap kesalahan yang selama ini sering dibiarkan. Dan sebagai pemberontak, saya mendukung pemberontak juga...

Mendukung Dedi buat saya adalah perlawanan terhadap sistem salah yang selama puluhan tahun dipelihara, bahwa agama dijadikan alat politik untuk kepentingan golongan..

Seperti ruginya warga Jakarta kalau Ahok tidak terpilih, warga Jawa Barat akan sangat rugi jika Dedi Mulyadi hanya ada di Purwakarta. Ia adalah "antivirus" yang harus dikembangkan sebanyak2nya secara nasional, jika ingin kebhinekaan kita tetap terjaga..

Mungkin Kang Dedi seperti Asterix, yang kalau melawan kaum bumi datarix, harus meminum ramuan ajaib dukun Panoramix..

Saya angkat secangkir ramuan ajaib untuk Kang Dedi Mulyadix dan warga Purwakartarix..

Seruputt.. Demi Toutatis !!