Selasa, 24 Januari 2017

Tuhan & Goreng Pisang

Kehidupan
Kebahagiaan
"Tuhan, apakah doaku pasti Kau kabulkan?".

Pagi ini doaku meluncur spontan. Dihadapanku ada secangkir kopi dan sepiring goreng pisang. Siapa yang harus menjawab kali ini, kopinya atau pisangnya ?

"Karena Aku Maha Penyayang, pasti semua doa Kukabulkan.." Ah, ternyata goreng pisang yang menjawab. Baiklah, kuseruput kopiku dulu sebagai penghormatan.

"Hanya antara doa dan terkabulnya doa ada jarak menuju kesana. Karena itu, manusia harus berusaha dengan berjalan menuju tempat terkabulnya doanya.."

Ingin kumakan goreng pisang itu karena aku lapar. Tapi jawabannya masih belum selesai. "Jarak doa dan terkabulnya doa pasti sebanding dengan kadar seorang manusia. Kadar itu meliputi usahanya dan kemampuannya menghadapi terjalnya jalan menuju kesana.

Bisa saja dalam perjalanan, ia menemukan jalan baru yang lebih menarik dan kembali berdoa. Maka bergeserlah petanya dan ia kembali berjalan kesana.

Pada akhirnya -manusia yang menjadi bijaksana karena lamanya ia berjalan sehingga menemukan banyak pelajaran- akan memahami bahwa terkabulnya doa itu berwujud sempurna.

Ia tidak berbentuk sesuai keinginan berdasarkan nafsu awal, tetapi berubah menjadi sesuai kebutuhan, sesuai fungsi. Ia akan bahagia dengan kesempurnaan doanya yang terkabul, bukan bahagia semu yang malah merusak dirinya..."

Ah, menarik. Baru kupahami bahwa wujud doa di awal bisa berubah dalam perjalanan. Kita berdoa supaya dapat apel, tapi dalam perjalanan menuju kebun apel, kita bisa saja berfikir bahwa semangka lah yang tepat supaya kita tidak dahaga.

Oke goreng pisang sudah selesai tugasmu. Saatnya kumakan.. hap. Uenakss..
"Ohya, Tuhan.. Apakah doa buruk juga dikabulkan?"

Kali ini secangkir kopi yang menjawab. "Aku adalah sumber kebaikan, dan keburukan berarti ketiadaanKu.."
Seruput..
"Nilai seseorang adalah perbuatan baiknya.." Imam Ali as.

- untuk seorang teman -