Selasa, 28 Februari 2017

AGUS MARSAL & TERORIS BOM PANCI

Bupati Purwakarta
Dedi Mulyadi dan Agus Marsal
Namanya Agus Marsal.

Ia dulu pernah ditangkap Densus tahun 2012 karena terlibat jaringan teroris Purwakarta dan dijatuhi hukuman penjara 4 tahun. Keluar dari penjara, ia dirangkul oleh bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Kang Dedi sedang membangun sekolah ideologi, sekolah yang menanamkan cinta kebangsaan dan tanah air.

Awalnya Agus takut karena ia merasa tidak pantas untuk bicara kebangsaan, tapi ia terus diajak dan diperkenalkan tentang indahnya Indonesia.

Ini adalah program deradikalisasi yang dilakukan Purwakarta untuk mengembalikan para teroris kembali ke kehidupannya. "Yang menjadi masalah adalah sesudah mereka keluar penjara, siapa yang merangkulnya. Jika tidak dirangkul, ia akan kembali menjadi teroris.."

Yayat Cahdiyat, teroris bom panci yang kemarin ditembak Densus di Bandung, dulu sebenarnya pernah ingin dirangkul. Sayangnya, ia keburu pindah ke Bandung. "Seandainya dia dulu masih di Purwakarta, tentu ia tidak tewas seperti ini.."

Jawa Barat memang termasuk pemasok teroris yang paling banyak. Belum dketahui apakah ini bagian dari kisah lama pemberontakan DI/TII yang dipimpin Kartosuwiro di Jabar yang berencana mendirikan negara Islam.

Tidak mudah mengembalikan ideologi para teroris yang sekian lama dicuci otak dengan pemahaman bahwa negara yang mereka tinggali adalah negara kafir karena menganut paham demokrasi.

Tapi setidaknya apa yang dilakukan Kang Dedi Mulyadi dengan programnya bisa menjadi acuan bahwa masih ada peluang menjadikan mereka sebagai teman daripada menjadi musuh negara.

Pendekatan Kang Dedi Mulyadi dengan mendatangi Agus Marsal ke rumah kecilnya saat ia pulang dari penjara dan memberinya modal kerja 20 juta serta memberi tempat untuk berjualan adalah pendekatan emosional yang bisa menyentuh sisi terdalamnya.

Agus Marsal sampai sekarang tercatat sebagai pemberi materi di sekolah ideologi di Purwakarta. Ia kerap menceritakan pengalamannya saat ia bergabung dengan kelompok teroris.

Ah, kenapa kita sering lupa bahwa mereka juga adalah bagian dari kita? Saya harus angkat secangkir kopi untuk kang Dedi Mulyadi dan warga Galia di Purwakarta yang bisa menerima mereka. Tidak salah jika saya memberi label Purwakarta sebagai Laboratorium Toleransi. Seruput..