Kamis, 02 Februari 2017

AHOK KURANG BERADAB

Sidang Ahok
Sidang Ahok
Salah satu page tokoh yang kuikuti adalah kepunyaan Kang Dedi Mulyadi. Pagenya si akang yang bupati purwakarta ini lumayan menarik. Entah beliau menulis sendiri atau ada tim-nya, tapi kadang ada hal baru yang kudapati disana.

Followernya sudah mencapai 5 juta 800 orang. Sudah mendekati angka mistik 7 juta orang yang -duluuu- kumpul di Monas.

Ada satu tulisan terbarunya yang lewat di berandaku.
"Sikap Pak Ahok kepada Pak Kiai Ma'ruf Amin memang kurang beradab, dan harus diselesaikan secara beradab secara tradisi kultur dan Yuridis".

Awalnya biasa aja, tapi jadi ngikik sendiri baca komen-komennya. Kang Dedi diserang oleh banyak ahoker karena menulis Ahok "kurang beradab". Rata-rata mereka tidak terima jagoannya dibilang kurang beradab.

Setahu saya kang Dedi adalah teman dekatnya Ahok. Mereka punya pemikiran yang sejalan dan sama "gila kerja". Dan tulisan itu -dari sisi pandang saya- adalah surat teguran sayang dari seorang sahabat.
"Kurang beradab" disini yang dimaksudkan kang Dedi kepada Ahok adalah Ahok harus mulai bisa menempatkan dirinya. Ahok harus bisa melihat dengan siapa ia bicara.

Kultur NU dalam menghormati orang yang lebih tua -apalagi ia seorang ulama- masih sangat kuat. Dan biar bagaimanapun KH Maruf Amin yang juga Ketua MUI itu adalah ulama di kalangan mereka.
Ada ketersinggungan sebagian warga nahdliyin ketika mereka melihat seorang ulama sepuh dibentak oleh seorang muda seperti Ahok.

Disinilah kang Dedi melihat Ahok "kurang beradab" alias kurang menempatkan dirinya dalam berbicara kepada orang yang sudah sepuh dan dianggap ulama oleh banyak orang. Kang Dedi sebagai seorang sahabat mengingatkan sahabatnya untuk bersikap lebih baik.

Beda kalau menghadapi koruptor, misalnya. Kalau bisa gamparin aja. Dan saya setuju. Ahok sebagai seorang tokoh harus mulai belajar bijak melihat situasinya, karena ketika kita tidak mampu menempatkan diri di hadapan orang lain, kita sendiri yang akan rugi jadinya.

Tapi "Ahoker die hard" tidak bisa melihat itu lebih luas. Kuping mereka juga ternyata sama tipisnya dengan lawan mereka. Ada seperti pemujaan sosok yang berlebihan sehingga sulit menerima sebuah teguran, meski itu dari sahabat sang idola.

Fanatisme berlebihan memang kadang membuat orang menjadi tidak rasional. Sumbunya ikut-ikutan pendek, meski anunya masih agak panjang. Maksudnya, jarinya.

Dan memang ilmu paham itu sulit, apalagi memahami sebuah tulisan. Tafsiran orang bisa berbeda.
Seperti membaca tulisan Enny Arrow dengan imajinasi yang berbeda pada masing-masing pembacanya. Ada yang suka yang gendutan, ada yang suka barbelnya besar, meski nama pemerannya sama, yaitu tante Sonja.

Mungkin tafsiran saya juga berbeda membaca tulisan "Ahok kurang beradab" itu. Tapi melihat latar belakang pertemanan mereka, saya yakin saya menafsirkannya dengan benar.

Dan terakhir saya dengar, KH Maruf Amin sudah menerima Ahok dan memaafkannya. Begitulah adab dalam kultur NU yang bukan pendendam.

Semoga kedepannya kita bisa lebih baik dan tidak mudah terbawa gorengan isu kemana-mana. Sambil minum kopi saya jadi teringat sesuatu, dan menjadi pertanyaan besar saya sejak SMP. "Kenapa pemeran laki di buku Enny Arrow itu selalu bernama Johan ya?". Tidak pernah ada jawaban, selalu menghilang seperti seruputan dalam secangkir kopi.