Rabu, 01 Februari 2017

BALADA SI PEPO

Politik
Politik
Mungkin manusia yang tergelisah se-Indonesia raya adalah Pepo. Pepo selalu gelisah sejak tidak menjabat.

Ia gelisah ketika dinasti di partainya hampir terputus. Anak kesayangan satunya bukanlah calon yang bagus. Maka ditariklah bintang terangnya dari pendidikan, ia harus punya penerus.

Pepo gelisah lagi ketika satu persatu masalah pada masanya mulai terkuak. Triliunan rupiah yang dulu dikeruknya, satu persatu tampak. Mereka yang dulu patuh padanya, merasa ditinggal dan teriak. 

Ia harus berfikir seribu cara supaya tidak terjebak.
Pepo tambah gelisah ketika ada program tax amnesty. Ia harus melaporkan seluruh hartanya tanpa terkecuali. Bagaimana mungkin, bisa habis namanya ketika rekeningnya mulai digali. Apa kata dunia, kalau mereka tahu hartanya dari ujung rambut sampai ujung kaki..

Pepo gelisah dan terus berpikir keras. Dia boleh turun tapi kekuasaannya haruslah tidak terbatas. Berkuasa kembali adalah kunci yang paling cerdas. Jika itu terjadi, maka amanlah semua yang ada di brankas.

Maka berlombalah Pepo dengan waktu. Ia gelisah dan selalu terburu-buru. Harus diciptakan banyak peristiwa sebagai pengalihan isu. "Biarkan orang sibuk, supaya mereka tidak fokus ke aku.."

Ia kembali gelisah ketika tidak pernah diundang. Duh, berarti si tukang kayu tahu siapa yang ada di belakang. Akhirnya ia pakai cara lama yang dulu nendang. Gaya prihatin dan dizolimi biasanya selalu mengundang sinpati orang.

Itulah kenapa Pepo selalu muncul di publik. Dengan gaya kadang marah karena merasa diusik. Ia selalu membuat situasi berisik. Ketika situasinya panas, ia muncul dengan wajah sedih dan berkata, "kalian semua ngga asik.."

Pepo selalu merasa gelisah. Ia terpenjara karena begitu cinta dunia. Harta berjibun ternyata tidak bisa membuatnya menikmati hari tua.

Teringat perkataan manusia yang sangat bijaksana. "Ketika Tuhan hendak menghilangkan nikmat seseorang, maka pertama kali yang dihilangkan adalah nikmat akalnya.."

Kunikmati hidupku sambil kutonton drama ini. Aku bersyukur dalam hati, ternyata sedikit itu jauh lebih berarti.


Sambil mengambil pelajaran kuangkat secangkir kopi. "Tuhan, jangan jadikan aku seperti Pepo di masa tuaku nanti.."