Rabu, 08 Februari 2017

BANGSA YANG DURHAKA PADA LELUHURNYA

Toleransi
Dedi Mulyadi
"Ke Cikini dong. Gua lagi ngadain acara nih.." begitu pesan seorang teman lewat whatsapp. Liat pembicaranya menarik juga, disana ada Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta, yang diundang sebagai 'tokoh pluralis". Maka jreeeng meluncurlah saya kesana.

Duduk disudut yang tidak diperhatikan saya menyimak setiap kata-katanya ketika ia berbicara. Kang Dedi itu orang desa. Ia kecil dan tumbuh di desa. Ia adalah saksi mata dari bagaimana kerukunan itu tumbuh bukan dari kekuatan agama, tetapi bagaimana ikatan adat menjaganya.

Dulu sekali, para pemangku adat dan tokoh desa, selalu mengajak warganya gotong royong membangun jalan, membangun rumah warga sampai makan bersama. Dengan selalu bertemu bersama, maka terciptalah kerukunan itu tanpa memandang suku, ras dan agama..

Begitu masuk era sekarang, agama mencoba mengambil alih peran budaya bangsa. Muncullah ustad-ustad baru, ulama-ulama baru sebagai rujukan. Ndilalah, agama dipakai sebagai topeng untuk mengumpulkan massa.

Pemerintah pusat dan daerah pun mengambil kebijakan salah. Mereka -demi meraup suara- mengucurkan dana ke pesantren-pesantren dan majelis-majelis taklim. Pemangku adat dan tokoh desa tersisih. Mereka harus mundur karena zaman sudah tidak menginginkan mereka.

Dampak negatif kemudian bermunculan. Para tokoh agama di setiap daerah muncul bukan lagi sebagai ulama, tapi sebagai mesin dana. Mereka hidup dari uang hasil sumbangan politikus yang ingin suara mereka. Bukan itu saja, mereka tetap mengutip sumbangan dari warga yang ingin belajar agama ke mereka.

Akhirnya monetizing agama pun berjalan. Warga miskin disuruh umroh terus supaya para ustad dapat penghasilan tambahan. Kalau yang miskin mengeluh, mereka disuruh sabar dan ngaji terus supaya Tuhan membukakan jalan. Semakin miskin mereka karena waktu mereka hanya dipakai untuk mengeluh kepada Tuhan mulai pagi, siang sore sampai malam.

Karena miskin, mereka menjadi bodoh. Dan semakin bodoh mereka, semakin taklid pada ustad yang -bagi mereka- dianggap sebagai jalan menuju perubahan hidup. Gotong royong pun hilang, orang terkonsentrasi ke majelis-majelis, ke masjid-masjid yang dibangun sebagai base camp. Tidak ada lagi pluralisme, yang ada hanya kelompok yang seragam.

Semakin lama akar masalah semakin dipelihara. Akar budaya kita semakin lemah dan ingin digantikan budaya timur tengah. Bayangkan, orang lebih suka membangun rumah ibadah daripada gorong royong membangun jalan untuk semua. Dengan doktrin membangun rumah ibadah sama dengan membangun rumah di surga, masyarakat pun terkotak-kotak.

"Jadi disitulah akar masalahnya.." Gumamku dalam hati sambil menghirup secangkir kopi. Pantas kehidupan masa kecilku seperti hilang, karena banyak orang dagangan agama yang lebih menjamin penghasilan.

Kang Dedi bercerita tentang bagaimana ia membangun kembali kultur pedesaan yang sudah lama hilang. Tapi gerakan yang dia lakukan tidak mendapat banyak tanggapan, karena orang lebih suka dengan berita dari kota besar.

Jakartasentris, Bandungsentris, Surabayasentris, lebih disukai daripada melongok sedikit saja ke daerah kecil seperti Purwakarta. Pantaslah, mereka yang memimpin di kota besar lebih mudah mencitrakan diri dengan kosmetik tebal daripada mereka yang benar-benar bekerja di tempat yang tidak banyak terlihat.

Saya kemudian berfikir, "Iya juga ya, bagaimana bisa orang kota -bahkan yang lama menempuh pendidikan di luar negeri- bisa menyelesaikan akar masalah di negeri ini jika mereka tidak mengenal karakter Indonesia dengan baik?

Para penyandang gelar dari universitas-universitas luar negeri itu, hanya mampu menjalankan konsep pemerintahan sesuai ilmu di negara yang mereka tinggali selama ini. Akhirnya konsep kapitalis yang mereka dapat disana, dibawa ke Indonesia. Indonesia menjadi negara kapitalis dengan sendirinya, tanpa pernah tahu akar leluhurnya.

"Intoleransi itu tumbuh karena kita durhaka pada leluhur.." Tegas Kang Dedi. Di semua kota besar, kita sudah tidak lagi bisa melihat Indonesia sebenarnya. Budaya kita tersingkir di museum-museum yang bahkan jarang dikunjungi karena tidak menarik.

Saya harus angkat secangkir kopi tinggi-tinggi kepada daerah besar seperti Bali dan Jogja, yang mampu menjaga adat dan budaya mereka dengan baik -dengan mempertahankan ciri mereka melalui bangunan-bangunan disana- sehingga tidak tergusur budaya luar.

Karena negara kita sudah kehilangan jati dirilah, kaum intoleran yang berbaju agama punya amunisi untuk menyerang.

Kuangkat secangkir kopi, sudah siang saatnya pergi. Terimakasih Kang Dedi, sudah mengingatkanku akan "siapa sebenarnya aku ini.."

Mungkin memang, sudah saatnya orang desa yang memimpin negeri ini. Orang yang mengenal akar budaya kita dengan baik dan mengembalikan kita pada diri kita yang sebenarnya, yang sangat toleran. Seruput...