Senin, 13 Februari 2017

BERKACALAH, JAKARTA

Kalijodo
Taman Kalijodo
Dulu tahun 80an saya tinggal di daerah Kebon Jeruk Jakarta barat. Masa kecil itu daerah Jakarta barat masih sangat asri. Tanah-tanah luas berwarna merah dan subur dimiliki oleh warga betawi yang menanam jeruk dan tanaman hias lainnya.
Jalan kaki disana pulang sekolah adalah kenikmatan. Udaranya masih bersih dan penduduknya masih asli. Acara adat dan kawinan dengan gaya betawi masih sering terlihat. Naik sepeda bersama teman-teman ke daerah puri kembangan yang masih hijau kanan kirii.

Ah, indahnya masa itu jadi pengen kembali. Tahun 2000-an saya kembali dan kaget melihat surga saya disana hilang. Diganti apartemen-apartemen menjulang, ruko-ruko sepanjang jalan, mall yang luasnya gila-gilaan. Jalanan menjadi padat dan berdebu.

Terik matahari langsung menghunjam tanpa ada rindang pohon yang menahan. Jakarta barat menjadi neraka baru yang sama sekali tidak membuat hati ini rindu. Kalau hujan, banjir yang sulit sekali surut.

Jakarta sebagai kota sentral memang tidak bisa menolak perubahan. Hanya yang saya sayangkan, kenapa pemerintah pada waktu itu begitu kejam?

Tidak ada niat untuk membagi tema berbeda antar Jakarta. Misal. Jakarta utara sebagai pusat industri. Jakarta Timur sebagai pusat rekreasi dan sebagainya. Semua dijadikan sama, dijual karena harga tanah semakin lama semakin tinggi.

Apalagi kalau berurusan dengan pembangunan mall dan apartemen, ijin begitu mudah karena uang yang disebarkan berlimpah.

Pada saat diajak teman -baru-baru ini- untuk melihat Taman Kalijodo, saya tersenyum. Ah, beruntungnya anak-anak itu masih merasakan kegembiraan seperti saya dulu meski ruang bermain mereka lebih kecil.

Tapi setidaknya mereka bisa menyalurkan apa yang mereka mau. Bersepeda, maen skateboard, lari-lari, bahkan sekedar memotret mencari sudut yang menarik. Hobi yang sesuai perkembangan zaman sekarang ini.

Saya tidak bisa membayangkan, jadi apa mereka ketika Kalijodo masih menjadi pusat segala maksiat. Melihat gadis-gadis jualan diri dengan pakaian minim dan gincu murahan. Lelaki-lelaki kekar bertato mabuk dan memalak orang lewat di pinggir jalan. Belum kerusuhan ketika para geng berebut wilayah untuk menyalurkan narkoba.

Jakarta jelas tidak akan bisa kembali dengan wajah seperti masa kecil saya dahulu. Tapi setidaknya Jakarta kini berusaha untuk lebih ramah dengan segala kerusakan akibat perkosaan yang dulu pernah terjadi.

Semua memang berawal dari niat. Niat menghasilkan program yang strategis. Untuk apa kemegahan kota jika warganya tidak bisa menikmati?


Jadi teringat lagu fenomenal bang Iwan waktu melihat ramainya taman publik itu di sore hari sambil duduk dan seruput kopi.. "Ramaikan, mimpi indah penghuni.. Berkacalah, Jakarta.."