Sabtu, 25 Februari 2017

HENDROPRIYONO, SANG LEGENDA.

Denny Siregar
AM Hendropriyono dan Denny Siregar
Saya melangkah masuk ke ruangan besar itu. Ditengah ruangan ada sofa besar dan nyaman, tentu mahal harganya. Yang menarik, disudut ada meja makan besar khas Teppanyaki, makanan ala Jepang yang dimasak diatas lempengan besi.

Saya duduk terdiam, beberapa orang mondar-mandir di sekeliling ruangan. Rasanya seperti berada di kantor Yakuza, mafia besar di Jepang.

Saya melihat ada pintu dari lapisan kayu. Ada ruangan lain selain ruangan ini. Ruangan sang Don. Boss dari segala boss. Entah kenapa situasi ini membuat saya sedikit merinding. Mungkin karena besarnya ruangan atau karena besarnya nama orang yang akan kutemui.

Ia adalah Jenderal besar. Namanya terangkat ketika ia memberantas kelompok Islam garis keras dalam peristiwa Talangsari. Ia juga disebut-sebut terlibat dalam kasus Munir. "Kalau ada orang mati, nama gua pasti disebut-sebut.." gerutunya kocak.

Pintu dengan lapisan kayu itu terbuka otomatis. Dan saya diminta masuk ke dalam. Ruangan yang ternyata lebih luas dari sebelumnya dan berkarpet tebal. Rasanya pengen tiduran di empuknya karpet tapi entar dibilang norak.

Disana, didepan saya, sang legenda menyambut dengan hangat. "Oh, ini toh Denny Siregar...". Dia, AM Hendropriyono, bapak intelijen Indonesia. Mendengar namanya saja waktu itu bergetar. Sekarang ia menyalamiku dengan penuh persahabatan. Ia tampak sehat dalam usianya yang ke 71 ini. Bahkan bisa dibilang ia lebih muda dari usianya.

Kami pun duduk dan kubiarkan ia bercerita. Lebih baik menjadi pendengar yang setia, karena ia adalah buku cerita yang tidak ada habisnya jika dibaca.

Ia adalah sejarah Indonesia. Rasanya tidak akan pernah cukup waktu duduk disampingnya selama beberapa hari dan mendengarkan semua perjalanan hidupnya dan petualangan karirnya.

Runtuh semua image seram yang melingkupinya. Pak Hendro ternyata adalah orang yang lugas, tidak pernah basa basi dalam berucap. Dan itu menjadikan diskusi berjalan dengan kocak. Saya tertawa terbahak-bahak mendengar ia menyindir, menohok sekaligus menampar perilaku tokoh-tokoh negeri ini. Saya seperti melihat diri saya sendiri ketika berbicara.

Dan -Subhanallah- ia ternyata membaca analisa-analisa saya tentang situasi dalam negeri terutama tentang bagaimana kelompok Islam garis keras ingin menguasai negeri ini.

Haru, bangga sekaligus takut. Jika sekelas beliau saja setuju dengan pandangan liar saya dalam memetakan bagaimana situasi Indonesia ke depan, tentu orang yang tidak setuju dengan saya dan sekelas beliau juga seperti itu. Posisi saya langsung tampak rapuh tanpa perlindungan.

Beliau beberapa kali mengutarakan keinginannya untuk mundur dari dunia politik. Tapi orang-orang terus berdatangan meminta ia untuk terus berkarya. Bahkan Presiden Jokowi pun memintanya utk menjadi penasihat. Pas memang, beliau ini ahli strategi yang diakui Internasional.

Sekarang ini kegiatannya mengantarkan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia PKPI supaya mandiri dan ia berencana pensiun seluruhnya. "Mending dagang aja.." cetusnya sambil minum secangkir teh hangat. Saya seperti biasa minum kopi.

Akhirnya, selesai sudah. Beliau perlu istirahat. Sayapun pamit pulang. Kami bertukar buku. Saya membawa pulang bukunya "Operasi Sandi Yudha - menumpas gerakan Klandestin" dan ia membawa buku saya "Tuhan dalam secangkir kopi".

Saya tidak pernah meminta ijin kepada siapapun untuk menuliskan perjalanan saya ketemu seseorang. Hanya kali ini berbeda, saya menghormati nama besar beliau di dunia intelijen, dunia yang tidak terlihat, bolehkah saya menulis kisah pertemuan saya dengan dirinya ? Dan beliau mengijinkan dengan senang hati..

Dalam perjalanan pulang, saya duduk dan melamun. Saya baru merasakan betapa sebuah tulisan mampu menembus sekat-sekat apapun juga.

Dan saya berada disana sekarang ini, berada di tengah titik pusaran politik, berpetualang, bertemu orang-orang besar dan menjadi saksi sejarah baik yang terbuka maupun yang tidak pernah dibuka.


Ingin cepat-cepat kembali ke duniaku lagi. Bersama sebatang rokok dan secangkir kopi. Entah sampai dimana ujung perjalananku nanti dan siapa lagi yang akan kutemui. Biarlah, kunikmati saja perjalanan yang semakin lama semakin menarik ini.