Kamis, 23 Februari 2017

Jokowi Rapatkan Barisan Menghadapi Freeport

Freeport
Presiden Jokowi
Menghadapi Freeport itu sungguh bukan perkara mudah. Meskipun nilai kapitalisasinya tidak besar, tapi kukunya sudah begitu dalam menancap di daging Indonesia. Freeport juga menjadi bagian dari sejarah hubungan kuat Indonesia dan Amerika.

Permasalahan terbesar dari kasus merebut kembali Freeport adalah peran kuat para mafia yang berasal dari bangsa sendiri yang sekian lama mengecap pundi-pundi manis dari mereka.

Jadi ini sebenarnya bukan lagi pemerintah melawan asing, tetapi juga melawan bangsa sendiri. Mirip dengan kasus Petral, dimana akhirnya pemerintah harus berhadapan dengan bangsa sendiri.

Pasal-pasal dalam Kontrak Karya yang menganak-emaskan Freeport dibuat dengan persetujuan bangsa sendiri. Begitu juga dengan peraturan pemerintah terdahulu yang dibuat tumpang tindih, sehingga menguntungkan posisi Freeport ketika mereka berbicara dalam wilayah hukum.

Karena itulah Jokowi merapatkan barisannya, para menteri-menterinya yang juga panglima perangnya. Konsolidasi antara Jonan Menteri ESDM dan Sri Mulyani Menteri Keuangan semakin rapat, karena pemerintabhatus menguasai segala aspek hukum dan keuangan.

Begitu juga Menko Maritim Luhut Panjaitan ikut bersuara keras mendukung langkah pemerintah membawa kasus ini ke arbitrase.

Rapatnya barisan ini juga dilakukan dengan koordinasi TNI dan Polri. Diluar itu, ada ormas besar Islam Nahdlatul Ulama yang menyatakan dengan jelas berada di belakang pemerintah.

Jadi kita akhirnya paham, kenapa Jokowi memprioritaskan untuk membangun Papua dengan investasi besar-besaran di bidang infrastruktur. Investasi ini sangat penting untuk menghadapi situasi seperti ini. Papua harus siap, harus maju, harus sejahtera supaya tidak mudah di provokasi untuk merdeka.

Jokowi sudah menyiapkan medan peperangan sejak awal..

Apakah selesai?

Belum. Ini baru permulaan. Siap-siap kita diguncang isu bahwa China akan masuk Freeport untuk memanaskan isu anti cina yang sudah beredar.

Sepertinya harus seruput kopi dulu sambil mengamati perkembangan yang terjadi.

Angkat cangkirnya..


"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Bung Karno.