Kamis, 16 Februari 2017

MESIN PERANG PKS


Politik
PKS
"Kemana PKS, lama gak kedengaran suaranya.." tanya saya pada seorang teman. "Udah mati kali.." Jawab temanku sekenanya. Dan fikiran saya terus terbang sampai kemudian menghilang tidak memikirkannya kembali. Apalagi Pepo lebih menarik dibahas daripada PKS yang tidak kunjung muncul.

Strategi menyembunyikan PKS dalam pertarungan pilgub DKI ini, memang cerdik. Mungkin ada yang terpengaruh quote saya, "Melihat mana yang benar dan mana yang salah, lihat kemana PKS berpihak dan pilihlah lawannya.." sehingga PKS lebih baik tidak terlihat di publik sebagai pendukung calon tertentu.

Dan mesin PKS ini memang mengerikan. Kader2 mereka militan akibat penggemblengan kuat dengan doktrin yang terus dipampatkan. "Right or wrong is my party" adalah jargon yang terus dibawa kadernya. "Lu mau bilang apa kek tentang PKS, itu partai gua. Lu mau apa ?"

Kita bisa melihat massifnya mesin cyber mereka pada pilpres 2014, dimana mereka memainkan banyak isu yang membingungkan. Dan mereka sangat cerdik, menempatkan menterinya si posisi strategis pada masa SBY di kominfo, yang berarti menguasai jalur komunikasi dan informasi.

Di bawah Sohibul Iman, Presiden PKS sekarang, PKS berubah wajah. Yang dulunya keras di bawah Anis Matta, menjadi lebih senyap dan jarang terlihat. Ini membuat kekuatan mereka sulit diukur banyak pihak.
Dan terbukti mereka belum habis..

Jejak PKS langsung terlihat ketika Anies meraup banyak suara dalam pilgub DKI. Kemampuan mereka melakukan rally panjang door to door di masjid2, majelis taklim sampai ke RT/RW tidak bisa diremehkan. Mereka mampu menempatkan kader2nya di posisi strategis tapi tidak terlihat.

PKS meraih hasilnya. Suara Anies melejit jauh meninggalkan Agus, yang tidak sadar dimanfaatkan dengan baik. Saat Agus sibuk koordinasi dgn pimpinan ormas garis keras dan memainkan isu penistaan agama, PKS berselancar dengan isu itu dan menikmati ombak besar yang memenangkan mereka.

PKS menemukam soulmatenya dalam potlitik yaitu Gerindra. Terutama ketika Gerindra masih punya Prabowo. Ada simbiosis mutualisma diantara mereka, PKS membutuhkan sosok dan Gerindra membutuhkan mesin yang militan.

Dan inilah yang mereka lakukan, mengusung Prabowo di 2019. Untuk itu mereka harus menguasai dulu kantung2 suara. Di DKII mereka harus menang, karena meski bukan tempat pemilih terbesar, DKI adalah wilayah seksi untuk menaikkan popularitas.

Ini bisa menjadi satu poin bagi relawan Ahok untuk bisa semilitan mereka..
Sesudah DKI mana lagi ?

Tentu kantung pemilih terbesar di Indonesia yaitu Jawa Barat dengan perkiraan 30 juta pemilih. Selama 10 tahun PKS menguasai wilayah ini. Dan kemungkinan besar mereka akan bekerjasama dengan Gerindra lagi.

Ini akan menjadi pertarungan panas lanjutan sebelum menuju 2019, hari penentuan..
Secangkir kopi mengajarkan, memahami kekuatan lawan jauh lebih baik dari membanggakan kekuatan sendiri. Meski pahit, seruputannya terus menyadarkan untuk tetap menginjak bumi..