Kamis, 23 Februari 2017

PURWAKARTA, Laboratorium Toleransi di Indonesia

Hari ini diundang lagi ke Purwakarta. Saya kemaren ditelpon staf Kang Dedi Mulyadi untuk datang ke acara. "Acara apa ?" Tanya saya. "Mau dipertemukan dengan KH Ma'ruf Amin.." kata dia sambil ketawa keras.

Hehe, wah rupanya tudingan bahwa saya menghina ulama sekelas KH Ma'ruf Amin sudah sedemikian viral. Okelah, saya datang Purwakarta, sekalian kangen ma sate Maranggi Purwakarta yang terkenal itu.

Di Purwakarta, saya dipertemukan dengan KH Ma'ruf Amin Rais Aam PBNU sekaligus ketua MUI itu. Tidak ada pembicaraan khusus kecuali statement bahwa untuk pilkada DKI putaran kedua ini, beliau tidak memihak siapa-siapa. Clear sudah, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi.

Tapi bukan itu yang akhirnya menarik perhatian saya. Yang menarik sebenarnya adalah acaranya sendiri. 
Kang Dedi Mulyadi ternyata ingin memperkenalkan program de-radikalisasi terbarunya.

Program ini menargetkan siswa mulai SD kelas 6, SMP dan SMA, terutama mereka yang beragama Islam. Kang Dedi mewajibkan seluruh siswa yang beragama Islam di Purwakarta untuk mengaji kitab kuning di sekolah.

"Apa sih kitab kuning itu ?" Tanya saya.
Kitab kuning itu ternyata adalah kitab yang berisi tafsiran konstektual terhadap Alquran dan hadis. Isinya berbagai macam tafsiran dengan berbagai macam pendapat ulama.

Kenapa harus mengaji kitab kuning? Supaya siswa terbiasa dengan berbagai macam pendapat dan tafsiran. Dengan begitu mereka tidak terjebak fanatisme dan kebodohan akibat terlalu tekstual.
Ah, saya terduduk dan berfikir. Inilah yang seharusnya sejak dulu dilakukan. Bahwa perbedaan pendapat dalam penafsiran kitab adalah hal biasa, bukan kemudian dijadikan senjata untuk mengkafir-kafirkan.

Dan ini adalah tradisi NU yang dilestarikan dan dipakai Kang Dedi dalam melawan intoleransi di Purwakarta. Jadi bukan hanya aktif membangun rumah ibadah dari agama yang berbeda, tetapi juga masuk ke akar masalah pemahaman agama.

"Kenapa program mengaji kitab kuning ini wajib untuk siswa beragama Islam ?" Tanya saya lagi.
Ternyata Kang Dedi Mulyadi sudah berfikir 20 tahun ke depan. Ia mencetak generasi masa depan yang toleran, yang terbiasa berbeda pendapat dan tidak menjadi umat yang fanatik dengan pemahaman yang salah.

Saya semakin tertarik dengan sosoknya. Ia ternyata kaya akan gagasan, hal yang banyak hilang dari pemimpin daerah di Indonesia yang terjebak di pencitraan. Asal bangun banyak rumah ibadah untuk menarik perhatian, tapi lupa akar masalah yang utama.

Saya senyum dan membayangkan jika program ini dikembangkan ke seluruh Jawa Barat, provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi di Indonesia. Bisa jadi Jabar akan membalikkan posisinya dalam sekian tahun ke depan menjadi provinsi dengan tingkat toleransi yang tinggi di Indonesia. Kang Dedi musyrik? Ah masaaaa.

"Gak mencalonkan diri jadi Gubernur Jabar aja, kang?" Tanya saya dengan senyum nakal. Kang Dedi ketawa. Sayangnya tidak ada kopi di depan. Ah, kecutttt rasanyahhh..