Rabu, 15 Maret 2017

BELAJAR BERKHIANAT DARI PANDJI

Anies Baswedan
Anies dan Pandji
Saya sebetulnya tidak kenal Pandji Pragiwaksono. Juga jarang sekali menonton aksinya. Yang saya tahu dia seorang yang ahli bermain standup komedi atau melawak sendirian diatas panggung.

Orang yang diatas panggung mampu membuat orang lain tertawa, tergolong orang yang cerdas. Apalagi jika dia monolog, tentu kecerdasannya diatas rata-rata. Dan biasanya topik yang paling membuat orang tertawa adalah ketika kita mentertawakan diri sendiri dengan membawakan kekurangan kita menjadi kelebihan.

Hanya sampai disitu saya mengenal Pandji. Sampai ia akhirnya menjadi timses salah satu paslon di Pilgub DKI.

Banyak celotehannya yang membanggakan calon yang didukungnya. Dan kebetulan saya akhirnya tahu bahwa Anies -salah satu calon- adalah teman dekatnya. Sulit sekali memang ketika akhirnya seorang teman dekat meminta kita untuk menjadi pendampingnya. Apalagi ini dalam ajang politik, tempat banyak manusia berubah sesuai kepentingannya.

Saya teringat seorang teman yang sempat menderita. Ia dulu mendukung temannya supaya menjadi Kepala daerah. Ia berjuang mati-matian, mengerahkan seluruh apa yang dia punya supaya temannya menjadi apa yang dia inginkan.

Dan ketika temannya jadi, ia pun menjadi satu dari sekian orang yang bangga. Ia mendampingi temannya itu beberapa saat, sebelum akhirnya ia sadar bahwa sang teman berubah.

Apa yang ia lihat bahwa sang teman tidak mampu keluar dari pusaran politik yang keras, yang mengharuskannya menjadi pribadi yang berbeda. Sang teman menjadi oportunis dan sudah tidak pada jalur awal ketika ia berikrar.

Akhirnya -karena tidak tahan menderita- temanku keluar dan tetap menjaga pertemanan baik dengan temannya yang sudah menjadi tokoh itu tetapi tidak mau lagi terlibat dalam setiap keputusan politik yang jauh dari semua retorikanya.

Temanku tidak bisa berkhianat pada nuraninya. Kebenaran yang dulu dijunjungnya tidak ingin ia pertaruhkan lebih jauh hanya karena pertemanan. Teman tetap teman, ideologi tidak bisa dilacurkan, begitu katanya.

Lalu saya melihat Pandji dan saya kagum padanya. Pandji -dalam rekam jejak digitalnya- adalah seorang yang humanis, ideologis bahkan berani menyampaikan pendapatnya secara terang-terangan.

Ia pernah menyampaikan "FPI jangan pernah dibubarkan dan harus tetap ada, biar kita tahu kalau orang yang gak pernah sekolah jadinya kaya apa".

Dan sekarang ketika teman yang ia dukung itu juga didukung FPI, ia menjadi berbeda dan berkata bahwa yang dilakukan Anies adalah menjadi jembatan pemersatu.

Pandji tiba-tiba menjadi orang yang naif yang menganggap bahwa FPI begitu mudah diatur dan ditata. Ia tidak pernah berfikir bahwa Anies lah yang nantinya akan ditata oleh FPI, sama seperti Arya Bima Walikota Bogor yang dikungkung oleh HTI.

Pandji tidak sadar, bahwa FPI jauh lebih besar, lebih kuat dari seorang Anies yang bahkan sulit menjaga konsistensi ucapannya sendiri.

Dan sekarang Pandji kembali harus menelan ludahnya sendiri ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Anies si teman itu, berteman baik dengan keluarga Soeharto yang juga menjadi pendukungnya dalam pilgub ini.

Padahal Pandji pernah mengkritik betapa parahnya orang yang ingin kembali ke masa Orba. Ia bahkan pernah memakai kaos yang berkonsep, "32 tahun Soeharto, uang dan darah.." Dan sekarang, ia harus mencoba mengkhianati nuraninya ketika ia melihat bahwa Cendana ada dibelakang temannya.

Mungkin Pandji berfikir sama, "Ah, Anies mampu menjadi jembatan yang baik dengan keluarga Soeharto..." Pandji membayangkan Anies adalah Superhero pemersatu yang dengan tubuh ringkihnya berhasil menguasai FPI dan keluarga Cendana.

Disinilah saya kagum dengan Pandji, karena biar bagaimanapun bagi saya pelajaran yang tersulit adalah berkhianat pada nurani sendiri... Pandji jauh lebih jago dari itu.


Itulah kenapa saya lebih senang berteman dengan secangkir kopi. Ia pahit, hitam dan dengan segala keburukannya ia jujur. Dan jujur itulah sumber kenikmatan sesungguhnya. Seruput dulu, ah.