Kamis, 23 Maret 2017

CARI MAKAN ATAS NAMA RAKYAT

Semen Rembang
Demo Warga Kendeng
Saya jadi ingat pada saat bu Risma ingin menghancurkan Dolly di Surabaya. Komplek pelacuran tertua dan - katanya - terbesar se Asia Tenggara itu memang sudah mengakar bagi masyarakat sekitar. Mereka membangun perekonomian di sekitarnya dan hidup dengannya puluhan tahun lamanya.

Ketika bu Risma akhirnya membongkar Dolly, perlawanan pun datang. Perlawanan paling gigih datang dari mereka yang menamakan diri sebagai "masyarakat kecil". Masyarakat kecil berteriak dan mengutuk pemerintah yang tidak "pro rakyat". Mereka bergandeng tangan dengan para preman, para mafia LSM dan anggota DPR dengan bermacam faktor kepentingan.

Begitu juga ketika Ahok membongkar Kalijodo...

LSM untuk orang miskin yang kehilangan sumber proyek pendanaan, DPRD yang ingin menjatuhkan wibawa Gubernur dan artis2 yang namanya sedang anjlok mencari nama, semua datang kesana.

Dan mereka berteriak pemerintah tidak "pro rakyat" lalu melakukan aksi tidur semalam di sana berteman nyamuk dan bau yang pasti tidak mereka suka.

Sekarang ini cara melawan pemerintah adalah dengan membenturkannya kepada rakyat kecil beneran.

Rakyat yang sejatinya tidak tahu apa-apa diperas kesulitan mereka, ditakut-takuti akan dampak jika mereka tidak melawan pemerintah dan segala macam usaha.

Air mata jadi senjata utama untuk dipamerkan di media, menguras emosi para pembaca yang terbiasa menonton sinetron televisi yang serinya baru selesai ketika kiamat tiba.

Begitulah saya melihat sinetron Pabrik Semen Rembang. Saya sendiri juga heran, petani-petani lugu itu darimana dapat ide untuk menyemen kakinya ya? Bukankah mereka seharusnya sibuk mencari makan karena pendapatan mereka jelas pas-pasan. Tapi ah, kalau bicara tentang visi biasanya saya dihujat tidak pro rakyat kecil.

Pabrik Semen Rembang adalah milik PT Semen Indonesia. BUMN milik pemerintah. Semen Indonesia bukan pemain baru dalam bisnis semen, mereka sudah memulai sejak tahun 1910, dulu namanya adalah Semen Padang.

Track record mereka dalam tetap menjaga keseimbangan alam dan penduduk sekitar sudah teruji di Gresik, Tuban, Tonasa dan Padang. Jadi sebenarnya tidak perlu ada kekhawatiran di Rembang karena mereka sudah faham bagaimana cara bekerja yang benar.

Seharusnya dengan melihat track record ini, ada jaminan bahwa alam akan tetap terjaga dan kesejahteraan juga kesehatan masyarakat sekitar bisa terjamin.

Tapi yang namanya pembangunan tentu ada pro dan kontra, dan melihat kasus Dolly juga Kalijodo ada saja pihak yang merasa dirugikan mulai dari LSM sampai DPRD. Rugi karena selama ini mereka "makan" dari sisi berbeda yang tidak ada dampak positifnya bagi sekitar. Ketika melihat ada yang mulai menjalankannya dengan benar untuk masyarakat sekitar juga, teriaklah mereka..

Hal yang paling saya sesali adalah acara "semen kaki". Dan saya tidak yakin, para petani itu punya ide yang gila jika tidak dikompori. Bahkan mereka harus merelakan "waktu shalat"nya. Bagaimana bisa shalat dgn kaki tersemen?

Seharusnya kalau ada acara gini-gini lagi, kita dorong supaya pimpinan LSM dan anggota DPRD nya lah yang menyemen kaki mereka, itu baru namanya jantan. Tapi kalau mereka yang begitu, tentu tidak mengundang simpati malah mengundang cibiran..

Karena itulah saya sekarang sudah kebal dengan pengatas-namaan "rakyat kecil". Harus melihat berita-berita dulu, menyeimbangkannya, baru bisa melihat lebih jelas. Bukan asal teriak, tapi gak tau permasalahan sebenarnya. Yang susah kalo kena kata "Pokoknya"...

Mending minum kopi dulu dengan tidak menghakimi. Bahkan pada posisi tidak menghakimi pun tetap dihakimi.. "Lu katanya pro rakyat, kenapa gak nulis tentang derita petani Kendeng?". Ah, sudahlah.. mending seruput saja..