Rabu, 22 Maret 2017

DEDI MULYADI, SI KUDA HITAM

Politik
Dedi Mulyadi
Selain Ridwan Kamil, potensi Jabar ada di Dedi Muyadi. Dedi Mulyadi adalah Bupati Purwakarta, yang 2018 ini selesai sudah 2 periode menjabat. Dan meskipun belum seribut Kang Emil, Kang Dedi Mulyadi kemungkinan besar akan maju di Pilgub Jabar.

Dedi Mulyadi sekarang adalah ketua DPD Golkar Jabar. Ini menjadi kekuatannya untuk maju Pilgub Jabar, apalagi Golkar sudah mempunyai 17 kursi disana.


Ini berarti Golkar hanya butuh 3 kursi lagi supaya bisa memenuhi syarat minimal 20 kursi yang dibutuhkan untuk mencalonkan Gubernur. Jauh lebih mudah dari Nasdem dan Hanura yang terpaksa harus ngos-ngosan cari koalisi partai besar.

Dedi Mulyadi adalah aset besar Golkar di Jabar. Meskipun begitu, namanya tidak segaung kang Emil di media sosial yang lebih nge-pop. Ini mungkin karena posisi Kang Dedi yang ada di Purwakarta, kota kecil di Jabar yang jelas tidak ada apa2nya dibandingkan Bandung.

Meski begitu, sepak terjang kang Dedi tidak bisa diremehkan. Ia harus menghadapi kerasnya FPI di Purwakarta yang sudah menghancurkan patung-patung disana karena dianggap musyrik.

Kang Dedi bahkan sudah mendapat stigma sebagai seorang musyrik karena menyembah patung jauh sebelum kang Emil dituding Syiah. Heran juga, padahal Kang Dedi Mulyadi adalah wakil ketua PCNU Purwakarta. Kalau dia musyrik, tentu NU duluan yang menendangnya.

Ini resiko yang harus dihadapinya ketika ia bersikap tegas dengan tidak menaungi kelompok radikal di tempatnya.

Meski ada gesekan kuat dengan kaum radikal, Kang Dedi Mulyadi malah menjadi tokoh toleran. Gebrakan-gebrakannya dalam menangani radikalisasi di daerahnya bukan semata pencitraan belaka, tetapi langsung masuk ke akarnya dengan membina anak-anak supaya tidak terjebak menjadi teroris.
Bahkan BNPT mempercayai Kang Dedi Mulyadi untuk menangani 56 mantan teroris supaya di "cuci otak" lagi dengan program deradikalisasinya. Jabar -dengan tingkat intoleransi tertinggi di Indonesia- sebenarnya sangat butuh Kang Dedi Mulyadi.

Pertanyaannya cuma satu, apakah Kang Dedi Mulyadi akan maju lewat Golkar dengan koalisi bersama satu partai kelas menengah, atau gabung dengan PDIP yang punya 20 kursi di Jabar?

Jika bisa bergabung tentu hebat, tapi mungkinkah dan siapa calon dari PDIP sebagai wakilnya? Ridwan Kamil? Mau gak kang Emil jadi wakilnya??

Jika Golkar dan PDIP tidak bersatu di Jabar tentu sayang. Kekuatan Aher di Jabar tidak diragukan, ia sudah membuktikan dengan memimpin Jabar 2 periode.

Kalau menurut saya, untuk melawan kelompok Aher di Jabar lebih cocok kang Dedi Mulyadi daripada kang Emil.

Kenapa?

Karena kang Dedi Mulyadi menguasai wilayah pedesaan, sama seperti Aher juga. Jaringannya kuat di desa, secara Jabar itu 70 persen lebih adalah desa bukan kota.

Kalau kang Emil anak betawi -eh, anak kota- apa gak teler blusukan di desa terpencil di Jabar yang belum ada toiletnya? Bisa bawa parfum terus.

Karena itu, kita berharap PDIP juga melirik kang Dedi Mulyadi sebagai koalisi kuatnya. Berkaca dari kekalahan Rieke dan Teten dari Aher dulu, sudah saatnya PDIP sekarang bergandeng tangan dengan Golkar sebagai partai besar daripada dipecah koalisi Gerindra-PKS.

Seperti pernah saya ceritakan, Jabar ini sangat penting dikuasai koalisi nasionalis daripada koalisi agamis. Karena pertama, jumlah pemilih Jabar terbanyak seIndonesia. Dan kedua, Jabar adalah pemasok aksi "Bela Safira" di 411 dan 212 lalu. Tentu akan merepotkan pemerintah pusat jika Jabar kembali dikuasai mereka.

Itu analisa dengan keinginan sempurna. Bagaimana jika nanti malah kang Emil dan kang Dedi Mulyadi malah berhadap-hadapan disana? Yang bisa jawab, sana ambil kopinya.