Jumat, 10 Maret 2017

GAMAWAN FAUZI, MANTAN PENDEKAR ANTI KORUPSI

Korupsi
Gamawan Fauzi
Tidak mengagetkan sebenarnya ketika tsunami korupsi e-KTP akhirnya menyeret Gamawan Fauzi. Karena sebagai Mendagri pada masa pemerintahan SBY itu, Gamawan mempunyai peran sangat penting untuk meloloskan proyek senilai 6 trilyun rupiah itu.

Yang mengagetkan adalah cerita dibalik celana, bahwa dulunya Gamawan Fauzi adalah pendekar anti korupsi.

Gamawan sempat dinobatkan sebagai pendekar anti korupsi oleh komunitas Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA) pada 2004 lalu.

Bahkan dari rekam jejaknya -mantan Gubernur Sumbar yang belum habis masa jabatannya tapi keburu diculik SBY untuk menjadi Mendagri itu- ia mengaku bahwa pada waktu pemilihan bupati Solok, ia tidak mengeluarkan uang sesen-pun. Pokoknya cerita kesederhanaannya mengharu-birulah, mirip sinetron-sinetron Raam Punjabi tentang pejabat yang taat pada Tuhannya.

Gamawan juga dikabarkan sering berseteru dengan Ahok. Perseteruan keras mereka yang tidak banyak terungkap adalah pada saat pembahasan pembuatan e-KTP.

Perseteruan keras lagi adalah saat Ahok menjadi Wagub DKI. Gamawan menegur Ahok karena mengangkat Lurah Susan yang beragama Kristen dan ditolak warga setempat. Ahok meradang dan menyuruh Gamawan untuk belajar kembali konstitusi.

Gamawan mempunyai peran besar merubah pendanaan e-KTP dari awalnya dana pinjaman luar negeri ke dana dari dalam negeri. Dan disanalah akhirnya penjarahan besar-besaran dana e-KTP terjadi. Bayangkan, dari dana 6 trilyun rupiah, yang 2,3 trilyunnya dirampok berjamaah.

Berapa uang yang diterima Gamawan Fauzi?

Dari dakwaan KPK disebutkan bahwa Gamawan Fauzi menerima sekitar 60 miliar rupiah. Ini uang yang jumlahnya sangat besar bagi mantan bupati Solok yang -katanya- sesudah pensiun dari Bupati hanya punya mobil sedan keluaran tahun 1995.

Gamawan Fauzi mungkin khilaf atau hanya lelah saja. Atau mungkin dia terkena dampak dari mantra sihir Ahok, saat Ahok menyindir teguran Gamawan kepadanya karena menjadikan Luran Susan sebagai Lurah disaat banyak warga yang mendemonya.

Kata Ahok, "Kalau hanya karena di demo, seorang pejabat tidak boleh menjabat, lalu kenapa SBY tetap boleh menjabat meski sering di demo?"

Ahok mengunyah sirih dan menyemburkannya ke api kecil yang sudah ditaburi kemenyan. Ia menyebutkan kembal mantra ampuhnya, "Saya juga khawatir Pak Jokowi -yang pada waktu itu masih Gubernur DKI- kinerjanya jadi turun karena didemo terus. Mungkin dia lebih cocok dipindahkan ke Merdeka Utara".

Dan serepetan Ahok tepat. Jokowi akhirnya ke jalan Merdeka Utara atau jadi Presiden dan Gamawan Fauzi naik pangkat sedikit dari mantan Mendagri menjadi calon tersangka.

Gamawan Fauzi itu pendekar anti korupsi, dulunya.
Mungkin karena sekarang sudah gak pernah minum kopi, jadi agak lemah. Apalagi ketika ditabok uang 60 miliar rupiah. "KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI !!" Plakkk, plakkk, plakkkkkkk.. ahh, enaknya.


Siapa yang kuat emangnya ditabok uang segitu? Gamawan aja kalah. Ceruputtt.