Kamis, 16 Maret 2017

IWAN FALS

Kalau kemarin saya bicara tentang belajar mengkhianati nurani dari Pandji, saya ingin menulis tentang belajar konsisten pada bang Iwan Fals.

Pada masa Orba, bang Iwan adalah orang yang cerdik membungkus kritik sosialnya lewat lagu terhadap pemerintah. Saya bilang cerdik, karena pada masa Soeharto siapa yang berani mengkritik beliau ? Bisa hilang atau minimal susah hidupnya.

Lagu-lagu bang Iwan adalah potret situasi pada masanya. Protes pada penggusuran dengan sewenang-wenang di lagu "Bongkar" dan "Ujung Aspal pondok gede". Protes terhadap korupsi dengan lagu "tikus kantor". Protes nasib guru dengan lagu "Oemar Bakri" dan banyak lagi.

Selain irama lagunya yang enak didengar, liriknya tajam dan menyayat tapi tetap sopan. Kalau gak sopan, bisa gak beredar tuh lagu. Dan bang Iwan berhasil mengkombinasikan kritik dengan situasi ditengah ganasnya rejim orde baru.

Lalu kemana bang Iwan sekarang? Kenapa beliau tidak mengkritik pemerintah lagi? Bang Iwan Fals jelas sudah tua. Produktifitasnya sudah jauh menurun. Dan yang pasti, ia sudah hidup dalam kenyamanan. Seperti katanya dulu, "saya sekarang melihat kemiskinan dari balik jendela mobil". Salahkah ia? Tentu tidak, karena itu sangat manusiawi. Dan seharusnya beban itu diteruskan ke generasi muda sekarang, bukan di pundaknya lagi. Masanya sudah berbeda.

Dan yang saya kagum, bang Iwan tetap konsisten pada akal sehatnya.

Ia sekarang sudah lebih religius, tetapi tidak sibuk bersorban. Ia jelas tidak setuju dengan penggunaan agama sebagai senjata politik seperti yang banyak digunakan orang. Ia pendukung pemerintah sekarang, karena buatnya semua sudah berjalan dengan bagus sesuai apa yang dulu diimpikannya ,lalu buat apa di protes? Biarkan semua berjalan sesuai tracknya.

Bang Iwan tidak konsisten?

Justru bang Iwan akan tidak konsisten ketika ia masih juga mengkritik apa yang sudah benar, bukannya malah mendukungnya. Bang Iwan akan sangat tidak konsisten ketika ia berada di belakang orang-orang dengan pemikiran yang dulu di lawannya. Bang Iwan sekarang dengan konsisten berharap negara ini satu saat akan besar karena dipimpin orang-orang yang benar.

Dan dari beliaulah sebenarnya saya belajar.

Saya belajar merangkai kata dari liriknya yang kuat, tajam dan menyayat. Saya belajar menggunakan kewarasan dari konsistensinya ia pada akal sehat. Saya belajar kejujuran dari apa yang ia teriakkan.

Bang Iwan pasti seperti saya, sulit mengkhianati nurani sendiri. Netral adalah kebodohan ketika banyak kesalahan. Mendukung orang-orang yang benar adalah keharusan ,karena kata Imam Ali as, "Kezaliman terjadi bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik.." dan saya tidak mau menjadi orang yang diam karena bersuara itu adalah pertanggung-jawaban.

Kalau bang Iwan Fals berteriak lewat lagu, saya menghentak lewat tulisan. Mungkin satu waktu saya akan berkunjung padanya sambil membawakan secangkir kopi dan kami akan seruput bersama.

Kebetulan kami sama-sama penggemar kopi sachetan. Meski ada perbedaan mendasar, kalau saya keluar uang untuk beli sesachet, bang Iwan dapat uang karena promosi sesachet.


Awas ko ya bang... Kapan-kapan aku pun bisa dapat uang dari kopi sachetan. Seruputtt...