Kamis, 23 Maret 2017

KANG RIDWAN KAMIL JANGAN BAPERAN

Kang Emil
Ridwan Kamil
Saya agak heran-heran gimana gituh melihat reaksi kang Ridwan Kamil ketika dituduh syiah. Dalam situasi pertarungan seperti ini, tudingan adalah senjata lawan untuk melemahkan kita. Dan ketika kita bereaksi berlebihan terhadap tudingan lawan, itu memang yang mereka harapkan. Saya kenyang dituding syiah.

Kang Emil harus belajar bahwa kata "Syiah" itu berarti pengikut dan itu dinisbatkan sebagai pengikut Imam Ali bin abu thalib, keluarga sekaligus sahabat terdekat Nabi Muhammad Saw.

Coba tanya orang2 Syiah yang dikenal sebagai pecinta keluarga Nabi. Dituding "Syiah" bagi mereka membanggakan. Karena tidak semua dari mereka bisa mencapai maqom ke-syiah-an dan malu menyebut dirinya syiah ketika perbuatan mereka jauh dari tauladan Imam Ali.

Sama seperti mereka yang takut menyebut dirinya "muslim" karena masih jauh dari sifat2 muslimin.
Saya sendiri seharusnya bangga ketika dituding syiah, karena orang lain mengakuinya. Tapi akhirnya malu sendiri ketika melihat bahwa ternyata saya jauh dari perilaku dan tauladan yang dicontohkan.

Saya selalu bilang, "saya pecinta para pecinta syiah(pengikut)nya Imam Ali". Menjadi pecinta dari pecinta para pengikut itu saja sudah membanggakan.

Menjadi syiah? Waooowww... Itu seperti klaim ketika seorang Katolik menyebut bahwa dirinya setara dengan Bunda Teresa. Atau ketika orang Hindu bilang bahwa ia selevel dengan Mahatma Gandhi. Jauhhhh.

Hanya memang kata "syiah" itu cenderung menjadi negatif karena dipelintir sebagai aliran sesat. Dan menariknya, yang dituding syiah biasanya pintar2. KH Said Agil Siradj, Ketum PBNU, dituduh syiah. Quraish Shihab, Doktor Hadis, juga dituduh syiah. Kan pintar2 mereka. Harusnya kang Emil bangga juga karena disejajarkan sama mereka yang pintar2 itu, bukan malah bereaksi sebaliknya.

Tapi ini memang politik. Ketakutan kang Emil bisa jadi sama seperti ketakutan Anies Baswedan. Anies akhirnya memproklamirkan diri bahwa dia bukan Syiah, padahal dulu-dulu sebelum menjadi Cagub dia anteng2 aja.Takut kehilangan suara ? Dan lihat pada akhirnya dia berubah menjadi apa...

Saran saya kang Emil, lebih baik tidak usah mengurus tudingan2, apalagi sampai mem-polisikan. Kalau dituding gitu aja sudah baperan, wah bagaimana nanti kalau menghadapi warga Jabar yang menurut survey "tingkat intoleransinya tertinggi di Indonesia".

Mungkin sudah waktunya kang Emil mengurangi aktifitas di medsos dan biar tim aja yang mengelolanya. Karena medsos itu seperti penonton sinetron, semakin sering kita menanggapi komen-komen negatif, kita akan berubah menjadi orang cengeng dan sensitif..

Gitu aja ya, kang Emil...

Kapan-kapan kita minum secangkir kopi sambil cerita bagaimana seharusnya pemimpin itu bersikap. Pemimpin itu tidak perlu pintar, ia fokus mengawal visinya ke depan meski harus berseberangan dengan pendapat banyak orang. Seruput dulu, kang.