Jumat, 31 Maret 2017

MEMBIDIK JOKOWI

Politik
Catur
Gelombang aksi dan peristiwa yang terjadi beberapa waktu ini, targetnya sebenarnya satu yaitu Jokowi.

Bisa dibilang sesudah Jokowi memimpin, banyak hal tak terduga terjadi yang membuat banyak pihak shock terutama mereka yang puluhan tahun merasakan "manisnya" gula Indonesia. Gurita mafia yang selama ini menguasai perekonomian negara dibabat tanpa ampun. Kolusi dan korupsi disikat tanpa pandang bulu.

Sentakan itu tidak hanya dialami oleh para garong lokal saja. Bahkan Singapura yang selama ini menjadi surga penyimpanan uang haram dan mendominasi seluruh perdagangan di Asia Tenggara ikut gerah.

Tax Amnesty yang diluncurkan Jokowi mengancam pengendalian uang yang selama ini menjadi unggulan mereka. Bahkan dibangunnya pelabuhan-pelabuhan berjaring dalam konsep Tol Laut, mengancam kedigdayaan mereka.

Hanya masalahnya, bagaimana cara menjatuhkan Jokowi?

Jokowi mendapat kepercayaan kuat dari mayoritas rakyat Indonesia. Karena itu tidak ada partai disini yang berani mengancam kedudukannya secara terang-terangan sebab itu akan berpengaruh pada menurunnya tingkat kepercayaan publik kepada mereka.

Jalan terbaik adalah mengganggu kinerjanya.

Gelombang aksi besar sejak bulan November -meski temanya tentang Ahok- tujuannya adalah membunuh kepercayaan investasi asing di masa pemerintahan Jokowi. Investor yang sudah commited akan memasukkan dananya ke Indonesia, dipaksa berfikir ulang karena negara ini dibuat tidak aman.

Selain itu cara lain yang dipakai adalah dengan memanfaatkan isu perseteruan petani Kendeng dengan PT Semen Indonesia di Rembang. Isu ini sengaja dibawa ke pusat dengan harapan terjadi tingkat penurunan kepercayaan masyarakat pada Jokowi karena ia tidak pro rakyat kecil dan melindungi korporasi besar.

Dengan begitu, diharapkan tingkat kepercayaan investor juga turun karena berinvestasi di Indonesia menjadi tidak pasti, rentan gugat dan dibatalkan sepihak.

Segala cara dipakai dengan memanfaatkan masalah yang terjadi. Apapun masalahnya, bawa ke pusat dan hantamkan ke wajah Jokowi. Situasi ini akan terus berlangsung sampai 2019 -pilpres- dengan harapan tambahan, elektabilitas Jokowi turun saat itu. Dan Jokowi sangat tahu itu.

Beruntungnya Jokowi tidak terbawa dalam arus permainan mereka. Jokowi tidak reaktif terhadap isu yang dibawa ke depannya, karena ia tahu bahwa reaksi yang salah akan dijadikan senjata baru bagi mereka yang ingin menjatuhkannya.

Ketenangan Jokowi dalam menghadapi pelbagai isu yang dilemparkan padanya menentukan langkah yang diambilnya.

Lihat, bagaimana ia tetap memperbolehkan aksi besar di Jakarta. Ia seperti membuka keran supaya airnya jangan tersumbat. Mengalir saja terus, karena jika disumbat pipa akan meledak. Tetapi ia juga memegang kartu-kartu para penggerak aksi, supaya tidak bertindak lebih jauh dengan anarkis.

Datangnya pimpinan beberapa ormas Islam ke Wiranto, Menkopolhukam beberapa waktu lalu, menunjukkan bahwa tugas mengendalikan mereka ada di pundak sang Jenderal. "Biarkan mengalir, tapi kendalikan.."

Karena itulah, Jokowi tidak bereaksi banyak terhadap peluru-peluru yang ditembakkan kepadanya. Ia mempercayai para pembantunya untuk menyelesaikan semua masalah-masalah itu.

Lalu apa kerja Jokowi?

Jokowi memusatkan seluruh tenaga dan pikirannya dalam menyelesaikan pembangunan infrastruktur dimana-mana. Itulah kenapa kita melihat Jokowi ada di beberapa proyek besar yang sudah atau sedang di bangun. Mulai dari pembangunan jalan, waduk, pos perbatasan sampai pembangkit listrik.

Bahkan ditengah semua guncangan itu, prestasi besar kembali diraih dengan beroperasinya pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di dunia, di Tapanuli. Proyek yang terbengkalai selama 23 tahun, diselesaikan dalam waktu 3 tahun.

Sesuai namanya "Percepatan Pembangunan", Jokowi fokus dalam mengejar target-targetnya.

Boleh dikatakan, Jokowi sebenarnya sekarang sedang menguasai permainan, hanya tidak banyak yang sadar. Ahok dijadikan decoy atau umpan, sehingga semua serangan berfokus kesana. Dengan begitu, tidak ada yang mengusiknya dalam menyelesaikan target pembangunan yang sedang digarapnya.

Sengaja dilarutkan persidangannya dan di boost ke media massa setiap dampaknya supaya teralihkan. Mirip pesawat tempur yang mengalihkan perhatian rudal yang menujunya dengan melontarkan pengalih hawa panas. Dan hebatnya, tetap saja lawannya tidak sadar itu..

Perang menuju pilpres ini semakin menarik. Penguasaan wilayah sangat penting disini. Karena itu Jakarta bisa menjadi panas begini berhubungan dengan penguasan wilayah. Sesudah Jakarta, Jabar yang dekat dengan pusat akan menjadi medan pertarungan kedua.

Sambil seruput kopi, saya masih tetap memegang Jokowi. Track recordnya dalam menghancurkan KMP dan menguasai Golkar menunjukkan ia bukan pemain rendahan. Bahkan bagaimana ia bisa menjadi seorang Presiden, meskipun bukan pemimpin partai menunjukkan kualitasnya.

"Saya senang kalau diremehkan.." begitu katanya beberapa waktu lalu. Dan meremehkan Jokowi adalah kesalahan terbesar lawannya. Sampai sekarang..