Kamis, 23 Maret 2017

PEMIMPIN YANG BESAR DI MEDIA SOSIAL

Ridwan Kamil
Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi
"Kenapa abang gak adil kalau masalah Jabar? Kang Dedi Mulyadi dipuji mulu dan kang Ridwan Kamil dikritik mulu".

Wah, ternyata banyak juga yang inbox ke saya ketika saya angkat masalah Ridwan Kamil ini. Saya tahu pecintanya banyak banget dan kadang terlalu cinta sampai lupa lupa daratan.

Saya pernah mengkritik Mario Teguh dalam sikapnya yang cenderung arogan, dan saya diserang oleh pecintanya dengan banyak bantahan. Pada akhirnya ketika Mario Teguh bermasalah, mereka juga yang menyerangnya habis-habisan.

Saya juga pernah mengkritik Ahok, ketika putaran pertama yang tidak fokus pada relawan. Dan saya kembali diserang habis-habisan. Dan pada akhirnya, mereka juga berjalan persis seperti apa yang saya katakan.

Dalam bersahabat, saya adalah penerima kritik yang baik. Karena sahabat yang terbaik bukan yang selalu memuji setinggi langit, tapi yang menjaga kita dari kelemahan.

Karena kritik itu sebenarnya tanda sayang, bukan kebencian. Dengan kritik kita menunjukkan lubang-lubang yang bisa menjadi titik lawan untuk menyerang.

Nah, jangan sampai kita menjadi pecinta yang fanatik dan akhirnya menjadi pembenci yang fanatik juga.

Ingat kasus Anies Baswedan yang dulu tercitrakan di medsos begitu bijaksana, santun dan pintar? Begitu banyak yang memujinya, orang yang juga sama yang menyerangnya.

Kenapa saya selalu berpandangan baik pada Kang Dedi Mulyadi?

Karena kang Dedi termasuk pemimpin bagus yang jarang diberitakan di media sosial. Dan program2 anti radikalnya juga bagus. Sejak dulu saya lebih suka bicara dengan "apa" yang dikerjakan seseorang, daripada "siapa" dia.

Dengan mengangkat kang Dedi ke medsos, saya juga ingin Jabar punya opsi dalam memilih pemimpin, tidak terpaku pada satu sosok saja. Saya hanya ingin mengingatkan supaya tidak terjadi kesalahan yang berulang, melihat sosok pemimpin hanya karena dia popular di medsos saja.

Kenapa saya kerap mengkritik kang Emil?

Karena kang Emil sudah terlalu sering dipuji dimana-mana. Ia sudah popular di medsos dan tidak perlu bantuan siapapun untuk membesarkannya.

Tapi ini juga bisa menjadi titik kelemahannya. Pujian adalah senjata penghancur mental paling efektif untuk membuat seseorang yang dulu baik berubah menjadi monster yang mengerikan.

Sambil seruput kopi, saya jadi teringat pesan almarhum bapak. "Berterima-kasihlah kepada mereka yang selalu menghinamu dan merendahkanmu. Karena tidak ada pelajaran yang kamu dapat dari mereka yang selalu meninggikanmu". Mau kopinya?