Kamis, 02 Maret 2017

PERANG DIBALIK MEJA SAUDI - INDONESIA

Keuangan
Jokowi
Penjelasan Babo Erizeli JelyBandaro ini harus dibaca pelan-pelan untuk memahami strategi Jokowi dalam kerjasama dengan Arab Saudi ini.

Selama ini kerjasama kedua negara dalam perdagangan lebih menguntungkan Arab Saudi, karena kita lebih banyak impor dari mereka daripada ekspor. Dan Jokowi ingin membalik situasi itu dengan konsep sama menguntungkan.

Mumpung Saudi lagi butuh kerjaan, rangkul sambil ajak dia minum kopi.
Seruput.

SOLUSI PEMBIAYAAN
Mungkin anda pernah tahu mengenai proyek LNG Tangguh yang menjual gas di bawah harga pasar. Kok pemerintah mau? apa pemerintah bego?
Sepintas benar kalau anda membangun proyek nya pakai uang sendiri. Tapi kalau pakai uang bank maka yang di perlukan adalah adanya kepastian bahwa produksi itu akan dibeli..
Mengapa? ya karena hanya dengan penjualan lah arus kas bisa berputar untuk akhirnya mampu membayar hutang.

Kepastian dari penjualan itu disebut dengan market offtaker yang outputnya beruba offtake guarantee. Dalam offtake guarantee itu harga tidak bisa dibuat floating tapi harus tetap. Agar value guarantee dapat mengcover resiko hutang.

Itu standard risk management bank apabila proyek di biayai melalui financial engineering. Kalau kemudian hari , harga ternyata naik atau turun ya itu resiko. Tapi resiko itu tidak akan membuat proyek merugi. Karena ketika harga di tetapkan, IRR sudah ditentukan didepan.
Jadi tetap aman.

Begitu juga dengan keadaan KSA yang berniat melakukan IPO terhadap Saudi Aramco. IPO ini bukan saja bertujuan untuk merestrutktur keuangan Saudi Aramco tapi juga sebagai solusi mengatasi defisit anggaran KSA dan sekaligus sebagai cara memperluas basis penerimaan KSA agar tidak lagi tergantung dengan minyak.

Jadi IPO itu adalah solusi pembiayaan, yang bersumber dari luar. Investor atau bank atau lembaga keuangan punya standar sama dalam mengambil keputusan atas dana yang akan di lemparnya. Apa itu? ya jaminan resiko dari faktor penjualan.

Saudi tahu bahwa China dan Indonesia adalah negara yang punya tingkat konsumsi minyak tinggi karena jumlah penduduknya juga besar. Laju peningkatan produksi minyak mentah kalah dengan tingkat pertumbuhan konsumsi.

Disamping itu program renewel energy atau energy alternatif juga tidak tumbuh dengan pesat seperti halnya AS dan Eropa. Sehingga kedua negara baik China maupun Indonesia menjadi net importir minyak.

Itu sebabnya Saudi begitu yakin akan mampu menarik Indonesia dan China dalam rekayasa pembiayaan melalui IPO. Caranya Saudi akan menawarkan pembiayaan investasi pembangunan kilang dengan kapasitas produksi sesuai dengan permintaan. Otomatis kilang yang akan di bangun di China dan Indonesia itu akan menjadi offtaker market atas produksi Saudi Aramco. Hasil produksi kilang berupa BBM akan di jamin pembeliannya oleh pemerintah sesuai harga pasar yang berlaku.

Bagi Indonesia dan CHina ini berkah. Karena mereka tidak perlu keluar uang untuk bangun kilang. Kilang di bangun dengan skema BOT. Setelah 10 tahun kilang tersebut di serahkan kepada Pemerintah untuk dikelola.

Strategy inilah yang di pakai oleh Saudi Aramco untuk mendongkrak kapitalisasi saham mencapai USD 2 trilion. Walau ini nampak too good to be true namun dukungan raksasa buyer dari China dan Indonesia adalah masa depan investasi yang luar biasa bagi investor.

Dan harus di catat bahwa kelak likuiditas saham akan di dukung oleh investor dari China dan Indonesia. Mengapa ? ya karena mereka yang menggunakan produk dari Saudi Aramco melalui kilang yang di bangun. Itu sebabnya kemungkinan besar Saham Saudi Aramco akan listed di bursa Hong kong agar lebih dekat dengan investor.

Masalahnya adalah apakah kapitalisasi sebesar USD 2 trilon itu likuid ?
Kalau melihat pengalaman dari perusahaan besar yang sudah IPO dan memperhatikan arus kas yang ada, serta IRR nya maka maksimum kapitalisasi Saudi Aramco sebesar USD 400 billion.

Kalau 5% di lepas di bursa maka itu hanya senilai USD 20 miliar. Ya cukup untuk bangun 5 kilang di Indonesia. Dan KSA tetap bisa meleverage saham yang belum di lepas itu dalam bentuk SUKUK untuk membiayai anggaran yang difisit.

Jadi kesimpulannya? Krisis Saudi adalah berkah untuk Indonesia yang bisa bangun kilang tanpa keluar uang dan berkah bagi China dapat MIGAS tanpa harus keluar ongkos geopolitik di timur tengah. Indonesia dan Saudi akan menjadi kekuatan luar biasa bila ini terjadi. Apalagi kemitraan ini tidak hanya sebatas kepada Saudi tapi juga kepada negara penghasil minyak lainnya di bidang downstream khususnya petrochemical yang sangat dibutuhkan sebagai suplai chain bagi beragam industri.

Tapi andaikan reformasi MIGAS tidak di laksanakan oleh Jokowi dua tahun lalu, tentu skema IPO Saudi Aramco tidak akan berhasil.

Mengapa ? mafia kan engga mau bangun kilang. Maunya beli jadi. Dan Jokowi adalah pintu masuk strategis KSA melobi Cina agar terlbat dalam financial linked.Ya Jokowi penyelamat KSA dan nasip KSA mau tidak mau ya di tangan Jokowi. Semoga.

Erizeli Jelly Bandaro