Sabtu, 25 Maret 2017

PUISI KEJEPIT RETSLETING

Buzzer
Terbuka dalam melihat masalah
Ketika aku berbicara tentang rusaknya Islam oleh umatnya sendiri, aku dituding menghina agama.
Ketika aku berteriak hati-hati ustad borjuis, aku dituduh menghina ulama.

Ketika aku menulis lagi, buruh lebih baik bekerja sendiri daripada terus merasa dizolimi, aku dilabrak karena menghina mereka.

Ketika aku kembali bersuara, mahasiswa mikir yang besar sekalian, masa mikir cabe2an, mahasiswa membalas, "bangsat lu denny!".

Dan ketika aku lantang bicara, hati-hati provokasi atas nama rakyat, aku kembali dituding menghina petani yang melarat.

Satu persatu temanku hilang. Tapi ratusan lagi yang datang. Mereka yang selalu melihat segala sesuatu dari dua sisi. Dan tidak mudah terprovokasi oleh penggiringan informasi.

Sekarang bahkan sulit bicara di halaman sendiri. Dimaki karena tidak empati. "Elu bukan seperti dulu lagi, bang.." Sepertinya aku harus mengejakulasi semua orang.

Mereka hanya membaca satu dua paragraf. Lalu berhak menghakimi maknanya. Mereka bahkan tidak mau berusaha mengerti apa yang tersirat di dalamnya. Apalagi bertanya..

Kenapa? Karena sudah ada keberpihakan dalam melihatnya. Para pembaca yang hanya membaca sesuai kehendaknya. Jika berbeda, mereka kecewa dan marah. Seolah semua orang pikirannya harus sama...

Buzzer bayaran, itulah namaku. Meski dibayar pake apa, aku pun tak tahu. Sekarang dunia maya punya agama. Kalau berbeda pandangan sedikit, langsung ditanya, "dibayar berapa?".

"Asu dahlah", kata cangkir kopiku. "Lihatlah aku. Hitam dan pahit rupa dan rasaku. Tapi aku tidak pernah mencoba berwarna biru, hanya untuk menyenangkan penyuka warna sendu. Yang mau minum, silahkan. Terlalu pahit kasih sedikit gula, senikmat cecap lidahmu.."

Teman datang silih berganti. Tidak ada yang abadi di dunia ini, selain perubahan itu sendiri. Damn, resleting ini menyiksa kulit sisaku. Inilah posisi tersulit, sudah sakit masih ditambah malu.