Kamis, 16 Maret 2017

RIDWAN KAMIL DI SIMPANG JALAN

Jawa Barat
Ridwan Kamil
Panasnya pilgub Jabar sudah dimulai. Meski masih 2018 nanti, tapi beberapa tokoh sudah mulai ancang-ancang. Selain Ridwan Kamil, Dedi Mizwar juga sedang mencari pegangan.

Dua orang ini memang bukan orang partai. Mereka sedang mencari dukungan, siapa partai yang mau melamar mereka. Lebih asik bahas kang Emil, karena kalau bahas Dedi Mizwar nanti saya nangis mulu lagi.

Ceritanya, pada waktu panas-panasnya penjaringan pilgub DKI, kang Emil disebut sebagai salah satu kandidat seksi untuk melawan Ahok yang masih menjadi calon independen. Maka datanglah kang Emil ke Jakarta untuk melihat, "bener gak sih, gua seseksi itu?".

Dari sumber yang bisa dipercaya, ternyata pada waktu ke PDIP, kang Emil dilarang untuk tarung di Jakarta. "Lu siap-siap untuk Jabar 1 aja," begitu kata PDIP. PDIP memang belum punya calon kuat di Jabar sesudah kekalahan Rieke & Teten.

Janji ini dipegang kuat oleh kang Emil. Tapi belum selesai. Kabarnya lagi, kang Emil ketemu Prabowo. "Bagaimana, pak? Apakah saya bisa dicalonkan untuk melawan Ahok?". Prabowo manggut-manggut. "Jangan dulu, Gerindra gak punya calon kuat untuk Jabar. Kamu nanti disana aja".

Sebagai catatan, kang Emil waktu menjadi walikota Bandung didukung oleh Gerindra dan PKS. Dan Gerindra - PKS jugalah yang waktu pilgub DKI dengan semangat membaja ingin mencalonkan dia sebagai lawan tanding kuat Ahok.

Nah, apakah koalisi kedua partai ini juga akan mengusung kang Emil di Jabar? Tunggu analisa saya nanti ya.

Kita lanjutkan.. Maka kang Emil pun pulang ke Bandung dengan memegang kedua janji tersebut. Dan berjanji untuk fokus selesaikan masa tugas di Bandung sampe 2018.

Nah pilgub Jabar semakin dekat. Bagaimana reaksi kang Emil? Tentu dong kang Emil bergerak kembali untuk menagih janji itu. Kepada siapa ? Ke Gerindra atau PDIP ? Ya, kalau bisa dua-duanya, kalau ngga ya salah satu aja.

Kang Emil pun menyusun tim pemenangan. Lobi-lobi dilakukan untuk mengangkat namanya ke permukaan kembali dengan harapan entah PDIP atau Gerindra meliriknya kembali.

Sementara ini yang baru deklarasi baru Nasdem, tapi Nasdem hanya punya 5 kursi. Sedangkan dibutuhkan 20 kursi baru partai bisa mencalonkan seorang Gubernur. Jadi tetap kang Emil butuh Gerindra atau PDIP.

Masih bingung di simpang jalan, kabar baru datang dari Bandung yang membuat kang Emil tambah pusing.

Relawan kang Emil yang dulu memenangkannya menjadi Walikota mendesak ia untuk fokus di Bandung saja. Sampai sekarang, Bandung belum punya calon yang sebagus kang Emil. Ditakutkan kalau kang Emil maju di Jabar, maka Bandung akan mundur kembali jika calon Walikota nanti dari kelompok lama.

Ditarik sana-sini, tentu membuat kang Emil bingung. Ternyata terlalu seksi itu gak enak juga. Ibarat wanita, bingung menentukan pilihan. Yang satu ganteng bingits, tapi masa depan suram. Satunya lagi jelek amit-amit tapi dompetnya tebal.

Tambah mantan yang dulu ngajak balikan lagi. "Disini aja sayang, biar kita hap hap lagi seperti dulu.." Auwwww..

Sudah bingung mau pilih yang mana ditambah gak boleh keluar Bandung, datang lagi satu "ancaman" kuat, si seksi tetangga sebelah Kang Dedi Mulyadi yang namanya terus naik ke permukaan dan punya kendaraan kuat yaitu Golkar yang sudah pegang 17 kursi.

Makin galau kayaknya kang Emil..

Sulit untuk memilih dan merenung di sudut sambil memegang secangkir kopi. "Apakah aku harus rela berdua dengannya? Benarkah di poligami itu indah?". Mari kita tanya pada Aa sajah..