Selasa, 21 Maret 2017

RIDWAN KAMIL MAU KEMANA?

Kang Emil
Ridwan Kamil
Ketika Ridwan Kamil didukung Nasdem secara terbuka, saya sudah yakin kalau ia akan diserang. Ridwan Kamil bisa dibilang -maaf- terlalu naif. Ia berharap mendapat dukungan dari kedua belah pihak yang sedang berseteru keras. Dalam hal ini saya sedang mencoba membagi kedua kubu dalam dua barisan, yaitu barisan garis keras dan barisan nasionalis.

Kedua kubu ini sudah bertempur di pilpres 2014, di Pilgub DKI, dan nanti di Pilgub Jabar, yang kemudian endingnya adalah pertarungan keras di Pilpres 2019. Mereka tidak mungkin bersatu dalam waktu dekat ini.

Kalau melihat postingan di page Kang Emil, bisa terbaca pendukungnya banyak dari barisan garis keras dari komen-komennya. Mereka sangat mendukung ketika kang Emil berkunjung ke Buya Yahya ulama dari Cirebon pendukung aksi 212. Mereka semangat ketika kang Emil mendukung "politik" shalat Subuh berjamaah di Bandung.

Dan sekarang, mereka berbalik arah ketika kang Emil didukung Nasdem. Nasdem -dalam perspektif barisan garis keras- adalah musuh besar mereka. Itu karena Nasdem adalah pendukung Jokowi dan Ahok. Lihat saja aksi mereka ketika mengusir reporter Metro TV di aksi 212, televisinya Surya Paloh ketua umum Nasdem.

Itulah kenapa saya tidak yakin jika di Pilgub Jabar ini, Ridwan Kamil akan berpasangan dengan Kang Dedi Mulyadi.

Kenapa begitu?

Kalau melihat track record kang Emil saat menjadi Walikota Bandung, ia didukung oleh Gerindra dan PKS. Bahkan wakil walikotanya kader PKS. Dan untuk Jabar, PKS hanya mempunyai satu calon, yaitu Netty Heryawan, istri Aher.

Menaikkan Netty sebagai Cagub, jelas resiko besar bagi PKS, karena ia perempuan. PKS akan dituding menjilat ludahnya sendiri terhadap masalah kepemimpinan wanita.

Nah, strategi yang bagus bagi PKS adalah menaikkan seseorang sebagai Cagub dengan Netty sebagai Cawagubnya. Siapa pilihan yang tepat bagi PKS? Tentu Ridwan Kamil.

Kebetulan PKS juga berteman baik dengan Gerindra, dan Prabowo juga belum punya calon kuat di Jabar. Siapa yang memungkinkan untuk dicalonkan Prabowo? Tentu Ridwan Kamil.

Gubernur Ridwan Kamil dan Wagub Netty, persis komposisi Walikota dan Wakil di Bandung. Dan saya masih belum yakin kalau kang Emil kuat untuk menolak tawaran menarik dari koalisi Gerindra-PKS.

Apa sebabnya?

Karena dengan koalisi Gerindra-PKS yang berjumlah 22 kursi, membuat mereka sudah memenuhi syarat untuk memilih Cagub dari syarat KPUD minimal 20 kursi.

Kalau didukung Nasdem, kang Emil bisa apa? Wong Nasdem cuman punya 5 kursi doang di Jabar.
"Lah terus kenapa kok kang Emil gembira didukung Nasdem?".

Kang Emil itu sedang cari perhatian PDIP sebenarnya, yang sudah mempunyai 20 kursi sehingga bisa memilih sendiri. Ia berharap Nasdem bisa merayu PDIP, atau setidaknya dengan berita ia didukung Nasdem, PDIP meliriknya.

Tapi tau sendiri PDIP, keputusan mereka -terutama bu Mega- baru muncul disaat terakhir. Yah deg-degan lah kang Emil. "Gak pasti, nih..."

Karena itu, ada kemungkinan besar ia melompat ke koalisi Gerindra-PKS yang lebih menjanjikan karena PDIP PHP mulu. Dipegang-pegang doang, tapi gak dipakai-pakai.. begitu analogi penganten barunya..

Disinilah kebimbangan besar seorang Ridwan Kamil. Karena itu ia sangat intensif mengangkat namanya di media sosial dengan "membentuk tim pemenangan" di beberapa daerah dan melalui dukungan Nasdem. "Ayo, PDIP... Beli dong guaaaa.. Mumpung lagi Sale".

Pertanyaannya, maukah kang Emil kehilangan pendukung dari barisan garis keras yang sekarang sangat memujanya??

Yang bisa menjawab, "Ayo sana, ambil sepedanya.."


Seruput dulu, ah.. meski dah malem..