Jumat, 03 Maret 2017

SAUDI-IRAN BEREBUT PENGARUH DI INDONESIA

Raja Salman
Presiden Joko Widodo dan Raja Salman
Kedatangan Raja Salman ke Indonesia, tentu bukan hanya membawa misi ekonomi. Jika hanya misi ekonomi, yang turun ke lapangan tidak perlu rajanya, karena raja itu simbol negara buat pemerintahan dgn sistem monarkhi. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu yang ingin dimainkan. Dan permainan itu bernama politik.

Sudah bukan rahasia umum lagi, bahwa Saudi dan Iran sedang berebut pengaruh di Timur Tengah. Perbedaan mendasar di antara kedua negara itu terlihat dalam perang Suriah dan Saman. Saudi berada di bagian koalisi barat bersama Amerika & Eropa, sedangkan Iran di timur bersama Rusia dan China.

Bahkan hubungan keduanya sangat panas saat tragedi Mina tahun 2015, yang menelan korban hampir 500 jamaah haji Iran. Saudi dan Iran mencapai puncak ketegangannya saat Saudi mengeksekusi mati ulama Syiah di Saudi.

Ketegangan ini menjalar kemana-mana, sampai Qatar menarik dubesnya dari Iran karena membela Saudi. Banyak pengamat yang khawatir ketegangan Sunni-Syiah di beberapa negara akan semakin meningkat. Disinilah permainan cantik Indonesia dimulai.

Indonesia memposisikan diri berada ditengah. Menlu Retno Marsudi aktif melobi kedua negara supaya terjadi tidak tegang. Dan karena langkah cantik ini, Saudi dan Iran simpatik kepada Indonesia.
Iran yang lebih dulu mendekat ke Indonesia, tentu melalui pendekatan ekonomi. Iran tahun lalu menanamkan modalnya sekitar 14 juta dollar US di Indonesia. Ini menempatkan Iran sebagai negara peringkat 13 dengan investasi besar di negara kita. Tahun ini Iran berencana investasi lagi di bidang listrik dengan nilai 5 miliar dollar.

Selain itu Indonesia juga akan impor gas murah dari Iran. Bukan itu saja, Iran juga membuka peluang Pertamina untuk mengakuisisi dua lapangan migas di Iran.

Kedekatan Indonesia - Iran ini membuat Saudi was-was. Nilai investasi Saudi di Indonesia sendiri relatif kecil, mereka ada di peringkat ke 57. Ini sinyal kuning buat Saudi bahwa pengaruh mereka di Indonesia - negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak dunia -akan goyah.

Maka sekalian jualan saham Aramco -Pertaminanya Saudi- Saudi harus mengamankan hubungannya dgn Indonesia.

Maka keluarlah Raja Salman dari sarangnya. Simbol negara monarkhi itu harus punya pengaruh kembali di Indonesia. Maka berangkatlah mereka ke Indonesia. Dengam harapan tingginya harga jual Aramco, maka Saudi mulai menjaljn kerjasama lebih serius dengan kita.

Memorandum of Understanding atau MoU pun dilakukan Saudi-Indonesia. Tentu Indonesia senang, karena semakin banyam investasi masuk, maka semakin untunglah kita. Dan berita bahwa Saudi akan invest 6 milliar dollar -dengan catatan saham Aramco laku- adalah suatu sinyal bahwa Saudi ingin terlihat sebagai "sahabat" Indonesia.

Yang senang tentu Jokowi. "Asekk, investasi masuk lagi.." Maka disiapkanlah penyambutan luar biasa -karena sifatnya Raja Salman senang kehebohan- supaya menarik minat Saudi juga.

Disini harus kita akui kalau Pakde Jokowi brilian. Ia memanfaatkan ketegangan kedua negara supaya bisa mendapat keuntungan disana, keuntungan secara ekonomi. "Matrek juga kita ya ternyata.." Pas kita lagi butuh-butuhnya uang untuk menstabilkan ekonomi.

Jokowi berlaku sebagai teman yang tidak memihak. "Daripada ribut mulu kalian berdua, mending invest disini yuk.." begitu pemahaman sederhananya. Jokowi melalui Menlu Retno berhasil memanfaatkan situasi untuk keuntungan Indonesia.

Hanya saya khawatir satu hal. Semoga ketegangan Saudi -Iran di timur tengah tidak meluas ke Indonesia. Ini sama seperti memelihara 2 anak macan di halaman rumah, yang punya potensi berantem disini. Anak macan yang bernama Sunni dan satunya lagi Syiah.

Meski begitu Jokowi tidak takut memainkan perannya. Ini momentum yang sangat baik, dan belum tentu terulang seperti ini lagi dengan manisnya.


Semoga semua lancar aja. Jangan sampai angin isu nanti berubah, "Habis PKI, terbitlah Syiah. Udah malam, kopi dah habis udud tinggal sebatang. Sialnya, koreknya ga ada. Mending seruput ajah... Seruput ampasnya.