Selasa, 21 Maret 2017

SEMOGA KAMU MENDAPAT HIDAYAH

Hidayah
Jilbab
"Semoga kamu dapat hidayah, ya".
Begitu celetukan teman-teman wanita kepada temannya yang belum memakai jilbab. Ini cerita pada waktu reuni teman-teman yang sudah lama tidak bertemu.

Aku tersenyum mendengar percakapannya. Dan kulihat teman yang belum memakai jilbab itu merasa terintimidasi karena hanya dia sendiri yang belum berjilbab.

Apa arti hidayah sebenarnya? Saya dulu mencari-cari definisi yang tepat dan ketemu dengan kata petunjuk. Petunjuk dari Tuhan. Bagaimana cara Tuhan memberi petunjuk? Jangan-jangan apa yang kita kira petunjuk, ternyata bukan. Wong Tuhan itu Maha.

Ada penjelasan logika dari seorang teman ketika kami berbincang di warung kopi.

"Dalam diri manusia itu ada sesuatu yang istimewa yaitu akal. Di akal inilah Tuhan memberi nikmat dan juga memberi siksa. Siksa bukan dalam artian Tuhan itu kejam, tetapi lebih kepada memberi sebuah jalan supaya manusia bisa berfikir bahwa nikmat itu adalah segalanya. Dan nikmat yang paling hakiki adalah ketenangan jiwa".
Kulihat ia menyeruput kopinya. Menarik, pikirku.

"Pada intinya, manusia sendirilah yang menciptakan nikmat dan siksa dalam akalnya. Ketika ia berbuat buruk, maka ia menyiksa dirinya sendiri dengan ketakutan. Begitu juga sebaliknya.

Nah, akal menemukan fase pembelajaran melalui rangkuman dari peristiwa-peristiwa. Sama seperti belajar di sekolah punya tingkatan-tingkatan dalam menyerap ilmu. Sama seperti seorang karateka yang diberi sabuk sesuai tingkat kemampuannya.

Hanya, selain akal manusia juga mempunyai sisi buruk dalam dirinya yaitu nafsu. Nafsu inilah yang menutup akal. Seperti awan gelap yang menutupi bumi. Ketidak-mampuan manusia menggunakan akal adalah karena ia memperbesar nafsunya. Semakin besar nafsu, semakin gelap akalnya. Pada fase akalnya tertutup inilah manusia seperti berjalan di labirin, ia berputar-putar di ruang yang tidak mampu ia kenali.

Disinilah dbutuhkan hidayah atau petunjuk. Hidayah itu bukan sesuatu yang tiba2 datangnya, ia harus dicari melalui berbagai macam usaha.

Faktor terpenting manusia mendapatkan petunjuk adalah ketika ia menurunkan nafsunya. Dan akar dari nafsu adalah kesombongan. Dengan menurunkan kesombongan, setahap demi setahap kabut tebal yang mengungkungi akal akan tersingkap dan manusia bisa melihat semuanya dengan lebih jelas, lebih jernih dalam menyikapi persoalan.
Begitulah konsep hidayah..

Yang bermasalah adalah ketika manusia mencari petunjuk berdasarkan nafsunya. Ia merasa mendapat hidayah, tapi sebenarnya tidak. Nafsunya yang mengatakan bahwa dirinya mendapat hidayah. Darimana kita tahu bahwa ia begitu? Ketika ia masih sombong dalam menjalankan apa yang dia sebut hidayah".

Ah, aku mengerti. Pada intinya, manusia ketika ingin mendapatkan pelajaran yang tinggi harus menekan nafsunya sehingga ilmu yang datang bisa masuk padanya.

Seorang karateka sabuk putih ketika ia belum lengkap ilmunya, cenderung petantang petenteng kemana-mana karena merasa berilmu. Beda dengan yang sabuk hitam yang merasa ilmunya harus disimpan dan dipergunakan sesuai waktunya, karena jika ia menggunakannya sembarangan efeknya bisa mematikan.

Ilmu itu menekan kesombongan...

Aku berterimakasih padanya akan penjelasan sederhananya. "Aku yang traktir kopi.." kataku dengan bangga. Akhirnya aku bisa juga traktir kopi seseorang. "Buat apa?" Kata temanku. "Lha aku kan pemilik warungnya".

Hari berlalu dan di facebook kulihat teman wanitaku yang dulu, ternyata sudah berjilbab. Sekarang ia senang memposting ayat-ayat di wallnya juga di grup WA. Ia pun sering berkata, "Semoga kamu mendapat hidayah".

Ilmu itu seperti secangkir kopi. Menyeruputnya harus dengan kesadaran tingkat tinggi. Jika ilmu belum penuh dan memaksakan diri, yang terjadi adalah kesombongan memenuhi akalnya kembali.


Seruput.