Sabtu, 11 Maret 2017

TUHAN BARU ITU BERNAMA ANIES SANDI

Politik
Agama jadi alat politik
Seseorang pernah menginbox saya, "Jika kamu meninggal nanti, tidak akan ada yang menshalatkan jenazahmu nanti".

Saya tersenyum dan dengan enteng menjawab, "Alhamdulillah, saya bermohon lindungan kepada Allah dari mereka yang bertuhankan Anies Sandi yang menshalatkan jenazah saya nanti.."

Dan seperti biasa ia memaki. Ciri khas manusia yang bertuhankan emosi.

Pada akhirnya intimidasi itu terjadi. Seorang ibu yang meninggal, jenazahnya sempat terlantar hanya karena ia beda pilihan. Seorang menantu kesulitan, karena ketika mertuanya wafat, ia harus membuat surat pernyataan, bahwa kelak ia akan mencoblos Anies Sandi baru diberi surat-surat.

Sebenarnya para mayit pun tidak perduli, apakah mereka di shalatkan atau tidak ketika tubuh mereka mati. Karena memang mereka sudah tidak punya keterikatan di dunia ini, di alam materi.

Mereka yang hiduplah yang punya tanggung jawab mengurusi. Para keluarga yang ditinggalkan pasti sedang bersusah hati. Bayangkan ketika mereka sedang bersedih, harus tambah dipersulit oleh orang yang keras hati.

Entah apa yang ada di pikiran mereka yang bertuhankan Anies Sandi. Padahal sudah jelas ayat berkata, "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab : 58)

Ah, saya lupa. Kitab suci mereka agak berbeda. Disana tuhannya keras dan tidak punya hati. Adil hanya kepada golongannya sendiri.

Mereka menafsirkan kafir sesuai kehendak sendiri. Mereka menghakimi munafik dengan nafsu yang tak tertandingi.

Nabi mereka selalu bersabda lewat twitter. "Bakar dan buang ke laut mayat pendukung penista agama". Mereka menyebutnya ulama. Saya menyebutnya durjana. Entah dari sisi mana saya harus menghormatinya?

Melihat tingkah laku mereka semakin hari semakin geli. Tapi mereka menganggap tindakan mereka berani. Memang dunia mereka terbalik dengan dunia yang saya tempati.

Entah apa yang terjadi ketika mereka nanti mereka berkuasa?


Lebih baik kubuat secangkir kopi. Kuambil sesendok, kutambahkan sedikit gula, kuseduh dan kuseruput sambil acungkan jari tengah kepada mereka. Mereka pasti tersenyum senang, "Itu berarti tuhan itu satu, tapi ada di nomer tiga". Alamak..