Sabtu, 29 April 2017

AGAMA ADALAH AKAL

Akal
Agama dan Akal
"Analogikan begini..."

Kataku sambil mengambil secangkir kopi yang terhidang. Aku dan temanku berbincang tentang banyak hal dan kali ini masuk pada bab kesempurnaan.

"Ketika seseorang itu kaya setengah-setengah, maka ia akan condong memamerkan kekayaannya kepada orang lain. Bahkan ketika ia bergaul dengan orang yang kekayaannya ada di atasnya, orang itu tidak segan untuk membungkus dirinya dengan materi yang sebenarnya diatas kemampuannya.."

"Contohnya?" Kata temanku menyimak dengan serius..

"Contohnya, ia sebenarnya hanya mampu beli mobil kijang. Tetapi karena sekelilingnya memakai mobil alphard, ia memaksa dirinya untuk membeli mobil itu yang harga bahkan cicilannya diatas kemampuan pendapatannya.

Akhirnya ia terbeban hutang besar dan untuk membayar hutangnya, ia berhutang lagi. Begitu terus sampai ia akhirnya jatuh bangkrut..

Disini kita belajar bahwa orang yang kayanya setengah-setengah, kekayaannya belum sempurna. Karena belum sempurna, ia menjadi labil dan selalu ingin menumpuk harta supaya dipuji dan diakui..

Beda dengan orang yang kekayaannya sempurna, baik secara materi maupun secara jiwa. Ia tetap stabil karena ia mengerti, tidak ada kekayaan yang lebih besar dari rasa cukup. Orang seperti ini merdeka dalam hidupnya dan tidak terbeban apapun.."

Temanku mengangguk tanda mengerti. Dan akhirnya kami sampai pada titik akhir.

"Begitu juga dengan beragama..

Orang yang beragama setengah, merasa perlu menunjukkan dirinya kepada orang lain. Ia terlalu cepat membungkus dirinya dengan aksesoris keagamaan, padahal kesadarannya belumlah sempurna.

Karena itu wajar kita melihat bahwa banyak orang yang sibuk dengan aksesoris agama, berperilaku berlawanan dengan nilai agamanya. Ia pakai gamis, tapi berwajah bengis. Ia kemana-mana berpeci, tapi mencuri. Ia berjilbab, tapi sombongnya menguat.

Ia belum sampai pada kesadaran sempurna, hingga dia menjadi labil. Mencari pengakuan atas keimanannya tapi menunjukkan perilaku sebaliknya..

Padahal, ketika orang itu sudah berani menggunakan aksesoris keagamaan -contoh aksesoris wanita yang diakui dalam Islam seperti jilbab- tanggung-jawabnya sangat besar pada agamanya. Karena ia harus menjaga agamanya dari fitnah. Jangan sampai agamanya sendiri tercoreng karena perbuatannya yang buruk".

Temanku yang memakai jilbab langsung mengkerut, merasa tersindir. Padahal aku tidak menyindir siapapun, hanya bicara tentang sebuah konsep tanpa menghakimi. Aku ketawa melihat wajahnya berubah.

"Memangnya kesadaran sempurna dalam beragama itu apa ?" Tanyanya cemberut.

Kali ini aku tersenyum. Teringat pesan ayahku sewaktu ia masih hidup, "Tugasmu di dunia ini adalah berfungsi kepada manusia lain. Tanpa itu, hidupmu tidak ada gunanya. Kamu jadi manusia yang merugi".

Kucoretkan pulpenku di atas selembar tisu. Kuserahkan kepadanya dan ku seruput kopiku dengan nikmatnya.

Temanku membaca tulisanku. "Puncak dari ibadah adalah akhlak.."
Sore itu mendung tebal, tampaknya akan turun hujan..


"Agama adalah akal. Tidak beragama orang yang tidak berakal.." Imam Ali as.