Sabtu, 15 April 2017

INDONESIA BOM BERJALAN

Djarot
Indonesia Darurat Radikalisme
Indonesia seharusnya mulai belajar berbenah diri dari peristiwa politisasi masjid yang sering terjadi belakangan ini.

Pengusiran Haji Djarot sesudah shalat Jumat di masjid Tebet bisa dibilang adalah puncak gunung es dari geraknya kaum radikal yang menguasai masjid sebagai alat politik. Sudah banyak masjid yang dikuasai mereka dan dipergunakan sebagai alat untuk melakukan kampanye politik.

Seharusnya Menteri Agama turun ke masjid-masjid dan lihatlah di beberapa masjid, betapa seramnya takmir masjid saat khotbah Jumat. Shalat Jum'at yang seharusnya menjadi bagian dari ibadah sejuk menjadi medan perang propaganda yang membuat merah telinga.

Seakan disana setan yang berkhotbah, bukan lagi ahli agama. Coba Menteri Agama belajar ke Mesir. Sejak jatuhnya Presiden Husni Mubarak, Mesir dikuasai oleh kelompok garis keras yang bernama Ikhwanul Muslimin. IM melakukan gerakannya melalui masjid-masjid dan memompa semangat anarki para jamaah Jumatnya. Jatuhnya Husni Mubarak banyak dipengaruhi oleh IM - meski mayoritas rakyat juga menghendaki Husni Mubarak untuk turun dari tahta abadinya.

Pada waktu itu mayoritas masyarakat Mesir menganggap IM sebagai pahlawan penggerak revolusi. Sayang mereka tidak tahu bahwa agenda IM bukan saja menjatuhkan Husni Mubarak, tetapi menunggangi kebencian rakyat terhadapnya untuk mengambil alih kekuasaan.

Sesudah Husni Mubarak jatuh, mulailah IM membangun kekuasaannya melalui Mohammad Morsi yang menang pemilu.

IM mendapat penentangan dari institusi Al Azhar yang berseberangan dengan Morsi. IM kembali mengeluarkan kekuatannya dalam mimbar-mimbar Jum'at untuk merebut kendali fatwa dan keumatan dari Al Azhar.

Jadi dari sini seharusnya kita belajar, betapa sangat bahayanya ketika masjid dikuasai oleh mereka yang punya kepentingan politik praktis.

Jika melihat pola politisasi masjid di Indonesia sekarang ini yang mirip Mesir, bisa dipastikan Ikhwanul Muslim sudah bergerak di Indonesia. Hancurnya IM di Mesir, membuat mereka mengalihkan kekuatannya di 2 negara dengan penduduk muslim yang besar yaitu Turki dan Indonesia.

Turki sudah berhasil mereka kuasai dengan memanfaatkan ambisi Erdogan. Dan sekarang mereka menunggangi situasi politik di Indonesia dengan berada di balik calon-calon pemimpin yang lemah dan ambisius.

Darimana IM membangun kekuatannya? Masjid-masjid kecil dan besar. Coba baca lagi pola serang mereka di Mesir.

Dan kita semua tahu partai mana yang menjadi perwujudan Ikhwanul Muslimin di Indonesia.

Pemerintah baru Mesir dan institusi Al Azhar sangat paham betapa bahayanya IM dan politisasi masjid, terutama saat shalat Jum'at. Karena itu sempat ada wacana dari pemerintah sana untuk menyatukan shalat Jumat di satu tempat saja..

Wacana ini tidak berkembang dengan bagus karena mendapat penentangan dari berbagai pihak, terutama mereka yang jauh dari areal tempat yang direncanakan untuk shalat Jumat bersama. Karena itu, Al-azhar dan pemerintah Mesir membuat konsep baru untuk menghadang berkembangnya IM kembali melalui masjid-masjid.

Pemerintah Mesir mencabut lebih dari 55 ribu izin takmir masjid yang ada dan menerapkan sertifikasi bagi takmir shalat Jumat. Selain itu, Mesir juga menerapkan materi kutbah Jumat yang sama dan disiapkan oleh pemerintah sejak 2014.

Dan -seperti biasa- ditolak mentah-mentah oleh mereka yang menamakan dirinya "ulama" dengan alasan klasik, mengekang kebebasan. Meski begitu, pemerintah Mesir tetap menerapkan aturan tersebut sampai sekarang ini.

Efektifkah?

Jelas muncul perlawanan. Dan dakwah kekerasan mereka berlanjut di bawah tanah. Hasilnya adalah pemboman gereja koptik Mesir beberapa hari lalu yang menewaskan puluhan orang.

Meski begitu, Tunisia menganggap bahwa langkah Mesir menyeragamkan materi khotbah Jum'at adalah langkah efektif. Dan mereka memberlakukannya juga disana..

Indonesia bisa melakukan seperti yang dilakukan Mesir - dan Tunisia. Sertifikasi takmir khotbah Jum'at dan seragamkan materi khutbah. Bentuk Dewan khusus untuk itu yang terdiri dari ulama-ulama NU dan Muhammadiyah yang sudah diberikan pemahaman bela negara.

Ancaman bom sesudah itu pasti ada. Serahkan pada ahlinya, Tito Karnavian Kapolri yang sudah terbukti akurat langkah-langkahnya.

Radikalisme berawal dari pikiran. Dan picunya adalah khutbah Jumat yang membakar.

Jangan sampai kita menyesal kemudian, menyaksikan anak-anak kita dicuci otak saat shalat Jum'at dengan kebencian. Mereka sudah tercuci otak di sekolah dengan Kepala sekolah dan guru agama yang radikal, masih harus ditambah dengan kebencian takmir dalam shalat Jum'at yang tersebar di banyak wilayah di Indonesia.

Anak-anak kita dibentuk untuk dijadikan bom berjalan..

Semoga tulisan ini bisa menggerakkan pemerintah dan aparat untuk mulai secara cepat dan serius menangani situasi ini.

Saya masih ingin minum kopi di warkop dengan tenang tanpa ada rasa khawatir bom meledak di sekitar.


Seruput dulu pakde Jokowi, Menteri Agama dan Kapolri.