Kamis, 06 April 2017

KALUNG MUTIARA IBU PERTIWI

Sejarah
Candi Borobudur
Saya punya teman yang sejak kecil menderita buta warna monokromasi, atau hanya bisa melihat semua dalam dua warna, yaitu hitam dan putih.

Dia selalu bercerita tentang betapa inginnya dia melihat warna lain, selain dua warna itu. Ia sering mendengar warna hijau, biru, merah dan kuning tapi tidak bisa membayangkan seperti apa warna-warna itu.

Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup tanpa melihat warna-warna. Tentu hidup akan terasa muram dan kusam. Hati sulit nenerima keindahan, yang ada hanya perasaan marah dan tertekan.

Jadi ketika saya melihat teman saya itu, saya berfikir bahwa dia orang hebat. Mampu mengalahkan emosinya dengan begitu kuat. Saya jelas tidak akan sanggup berada pada posisi itu.

Karena itulah saya terus bersyukur bisa melihat begitu banyak warna, begitu banyak keindahan yang -bagi temanku- berani menghabiskan semua harta yang dia punya hanya untuk melihat sepertiku.

Apa yang dilihat temanku, mungkin juga sama seperti perasaan mereka yang ada di Suriah sana...
Bertahun-tahun digempur perang yang seperti tidak berkesudahan, mereka jelas kehilangan keindahan yang dulu mengisi setiap ruang. Sekarang yang ada gedung-gedung rusak, debu tebal, mayat-mayat tergeletak dijalan.

Belum lagi taman yang dulu indah, sekarang menjadi onggokan kusam, rasa curiga berlebihan terhadap pendatang dan yang pasti hidup dalam ketakutan menunggu giliran kapan saatnya mereka didatangi teroris dan kehilangan kepala mereka.

Bagi warga Suriah sekarang, hidup itu hanya hitam dan putih. Mereka berada pada persimpangan hidup atau mati..

Saya yakin jika warga Suriah jalan-jalan ke Indonesia, ia akan menangis. Menangis melihat betapa surga itu sebenarnya masih ada. Ia datang ke Jogya melihat malam nongkrong di pinggir jalan dengan nasi gudeg daun pisang di tangan, ia tidak akan bisa berhenti menangis.

Tangisan bahagianya akan semakin keras ketika ke Bali melihat betapa masih tradisional budayanya ketika mereka sedang melakukan upacara adat. Apalagi ketika ia datang ke Raja Ampat melihat surga sesungguhnya dalam bentuk laut yang jernih dan ikan-ikan menari warna warni.

Sulit sekali bagi kita bersyukur ketika kita sedang berada di surga. Kita jarang melihat sesuatu dari kacamata orang lain yang lebih menderita dari kita. Mereka disana ingin berada di tempat kita, tapi sebagian orang di sini malah ingin menjadikan negara kita seperti tempat mereka.

Kebhinekaan di negeri kita adalah mutiara bagi yang mengenalnya. Ia menghiasi leher ibu pertiwi dengan warna-warna yang beragam dan indah. Tertaut kuat dalam benang kebersamaan dan saling menghargai antar sesama anak bangsa.

Dan ketika ada yang ingin merenggut dan mencampakkannya, apakah kita rela ?
Saya tidak dan tidak akan pernah. Saya tidak mau seperti rakyat Suriah yang kehilangan semua keindahan yang dulu pernah ada. Saya ingin mempertahankan rasa syukur ini sekuat tenaga. Dengan darah dan jiwa saya.


Dan sambil mengangkat secangkir kopinya, temanku yang terkena buta warna itu berkata, "Jangan sampai kamu baru sadar apa yang kamu punya, sesudah kamu kehilangannya".