Kamis, 06 April 2017

KETIKA SARUNG NAIK PANGKAT

PBNU
Seminar di PBNU
"Datang dong ke markas PBNU.." Temanku disana menelponku. "Ada apa ?" Tanyaku. "Ada seminar nasional sarung nusantara.." Katanya.

Sarung? Diseminarkan? Wah, sarung yang biasa kupake di rumah untuk ngadem dan membebaskan manuk-manuk nakal dari segala keterikatan benang sintetik yang mencengkeram sumber kehidupan, ternyata naik panggung juga toh. Kukira cuman properti ma trading saham doang yang perlu seminar.

Maka datanglah saya ke markas utama NU dengan semangat kemerdekaan. Dorongan semangat juga datang dari dalam sarung yang selama ini tercekik tapi tak bisa menjerit dengan teriakan, "bebaskan ! bebaskan !!"

Disana ternyata ada Kang Dedi Mulyadi bupati Purwakarta juga yang didapuk sebagai budayawan. Semakin menarik karena saya mengenalnya sebagai seorang yang mampu mengambil nilai filosofi dari apapun yang ada disekitarnya.

Dan saya semakin mengenal si sarung sebagai bagian dari sejarah Sunda dari penuturannya. Dari sejarah itu saya bisa melihat bahwa sarung di Indonesia bukan hanya sebagai identitas muslim saja, tapi sudah sebagai budaya.

Masyarakat Batak menggunakan sarung dalam upacara adat mereka. Begitu juga Bali, Manado dan hampir seluruh wilayah di Indonesia. Bermacam-macam model sarung menunjukkan bahwa budaya kita sangat kaya.

Tapi saya agak curiga, ada apa PBNU mengangkat sarung dalam seminar nasional di waktu ini ?
Ah, jangan-jangan ini sebagai bentuk perlawanan dan pengingat bahwa kita bangsa Indonesia sebenarnya adalah kaum sarungan. Ketika gamis menyerbu dan menjadi tren keimanan seseorang, sarung harus muncul sebagai identitas bangsa.

Ada kata-kata menarik yang saya tangkap dari pemikiran Kang Dedi. "Sarung itu sebenarnya ada filosofinya. Masyarakat Sunda berpatokan pada legenda yang sampai sekarang ada, dimana seorang raja harus tersesat dulu (sarung) sebelum ia akhirnya menemukan jatidirinya. Dan cerita tentang itu ada dalam kisah Lutung Kasarung atau Lutung yang tersesat.

Jadi, sarung bagi kita adalah media untuk menemukan jati diri setelah lama kehilangannya.."
Wow, ternyata bahkan sarung pun mempunyai filosofi yang dalam jika kita mengetahui sejarahnya. Padahal sarung buat sebagian warga Indonesia sudah menjadi pakaian tradisi bahkan kadang dibuat jadi ninja-ninjaan saat malam patroli.

Akhirnya aku pulang ke rumah dan kupakai sarungku kembali. Sambil seruput secangkir kopi aku menyemangati adikku yang sudah gelisah. "Sabar ya dek, kamu itu di dalam sarung karena masih tersesat. Sekarang kan malam Jumat, mari kita mencari jati diri dengan membunuh seribu Yahudi.."

Ada teriakan lemah dari dalam.. "Cemungud, kakaaaa..."