Minggu, 23 April 2017

PAPAN CATUR PUN DIATUR KEMBALI

Catur
Papan Catur
Bayangkan kita ada di luar stadion sepakbola yang di dalamnya penuh manusia. Kita diluar stadion bersama ribuan manusia lain, ingin masuk tapi tidak bisa. Pintu ditutup dan kita terjepit bersama banyak manusia lain.

Apa yang harus dilakukan ?

Buka pintunya supaya tercipta ruang baru. Kalau tidak, akan banyak korban terjepit karena ia didesak dari belakang oleh lautan manusia dan didepannya ada tembok besar yang menghalang..
Begitulah cara mengamati bagaimana politik terjadi belakangan ini.

Gelombang demonstrasi yang dibiayai lawan, menemukan momentum ketika sang calon dituding menghina agama. Ribuan manusia dan puluhan miliar digelontorkan demi menggoyang Jakarta. Tujuannya, Jakarta goyang maka Indonesia juga akan goyang pula.

Menarik melihat strategi pemerintah menangani situasi ini. Ini situasi berbahaya. Jika dihantam, maka yang terjadi mereka akan semakin berkibar dengan tagar #Umat Islam melawan kezaliman.

Cara yang cantik adalah bermain buka tutup supaya tidak terjadi sumbatan. Calon dinyatakan tersangka, supaya tidak ada alasan mereka menuduh pusat memainkan hukum ketika Polri ada di bawah kendalinya.

Di pengadilan dibuka seluas-luasnya dagelan politik yang dimainkan antara jaksa dan saksi. Semua orang bisa melihat saksi tidak kredible dan tidak punya bukti2, bahkan mereka juga sesungguhnya bukan saksi mata di tempat kejadian perkara.

Di tempat lain, aksi demonstrasi dipecah dengan memainkan perang dua sisi. Mendekati musuh yang satu, supaya musuh lain iri. Ketika satu sudah melemah, maka peta perangpun semakin jelas arahnya kemana.

Politik itu dinamis. Strategi sangat bisa berubah tergantung situasi dan kondisi. Ketika ternyata bahwa - meski gelombang sudah dipecah - tetapi masih sangat kuat, maka dibuka satu pintu lagi. "Lepas barang itu, kalau tidak kapal ini hancur.." terdengar teriakan dari dalam

Bagaimana caranya ?

Caranya seperti memadamkan api pada kebakaran di ladang minyak. Bukan dengan air, tetapi dengan ledakan yang diperkuat. Gelombang yang sudah besar itu disusupi dan didorong untuk semakin besar lagi. Isu diperkuat dengan isu lagi, "Jangan pilih dia, nanti Jakarta bakal terbakar lebih parah.."

Hasil dari kekuatan yang ditambah itu menjadikan gelombang mendapatkan ruang yang diinginkan. Seperti membuka pintu selebar-lebarnya dan memberikan apa yang mereka maui. "Lu mau daging, makan tuh daging.."

Maka ketika daging didapat, gelombang mulai mereda. Sebagian dari mereka lalu fokus berebut daging yang mereka incar sejak lama.

Tanpa sadar, di belakang mereka - yang ingin Indonesia rusuh - mencak-mencak. Ada orang2 yang tidak perduli daging, mereka hanya ingin mendapat momentum supaya membuat rusuh negeri ini. Dengan begitu, mereka akan memainkan skenario mereka sendiri.

Keinginan sebagian orang di belakang layar yang ingin memainkan momentum penista agama itu, kandas sudah. Momentumnya sudah hilang. Mereka tidak menyangka bahwa akan mendapatkan kursi dengan begitu mudah, yang sebenarnya bukan tujuan utama. Tujuan mereka hanya satu, Indonesia khilafah.

Posisi menjadi seri. Bidak-bidak disusun kembali. Model serangan berganti, karena kali ini target bukan lagi "aseng" tetapi sesama "muslim dan pribumi". Oke, strategi kali ini adalah isu PKI.

Ini cerita fiksi. Kalau ada kesamaan tokoh, tempat dan peristiwa mohon diampuni. Jangan dipercaya, karena saya hanya mengarang sambil seruput kopi. Ah.. nikmatnya kopi ini.