Jumat, 14 April 2017

SLANK YANG TETAP SLANK

Slank
SLANK
Siang tadi mampir ke markas Slank di jalan Potlot. Suasana penuh sesak oleh emak-emak naik metik tetangga bunda Ifet, yang ingin melihat Ahok sedang bertamu. Kali ini saya ingin ketemu Slank, soalnya Ahok gak suka ngopi.
Bertemu dengan Bimbim, Kaka dan Ivanka, saya seperti terlempar ke masa remaja. Saya tumbuh dengan musik mereka. Kenakalan saya juga dipengaruhi oleh lirik lagu mereka.

Saya ingat dengan lagu pertama mereka yang terkenal berjudul "Memang". Waktu itu formasinya masih ada Pay, Indra dan Bongky.

Ditengah mendayunya lagu rock melayu dari Malaysia yang sering diputar keras tetangga saya yang kerjaannya patah hati tiap hari, lagu itu menggebrak jiwa berontak kaum muda seperti saya. (Sebagai catatan, dulu saya pernah muda dan kurus, tapi kurang laku di mata wanita).

Lagu itu sangat lugas dalam kejujurannya. Bercerita tentang seorang anak muda yang tampil apa adanya tanpa kemunafikan. Beda jauh dengan seorang koruptor yang terlihat santun tapi busuk hatinya. Dan jadilah lagu itu sebagai lagu tawuran dengan anak SMA lainnya (apa coba hubungannya? ya namanya ABG, masih ada bego-begonya).

Bertemu Slank tadi, saya seperti reuni dengan masa remaja saya, tapi sudah dalam kondisi dewasa, gendut dan digilai banyak wanita (ehm). Menarik buat saya bahwa Slank ternyata tidak banyak berubah.
Bimbim, Kaka dan Ivanka masih tetap "nakal" ketika ngobrol dengan mereka. Mereka tidak merasa sebagai seorang superstar, sebagai bagian dari band legendaris. Malah saya yang canggung ketika mereka minta tanda-tangan saya di buku "Semua Melawan Ahok".

Dalam kedewasaan mereka, mereka tidak serta merta menjadi orang yang sok relijius dalam berbicara. Biasanya pada seusia mereka, fitrahnya manusia adalah mencari jati dirinya dan biasanya lari ke agama. Tetapi tidak. Slank tetaplah Slank, yang dulu mengisi masa remaja saya.

Kami bercanda dan ternyata kami satu pandangan. Kami tetap menjadi pemberontak, tetapi kali ini memberontak terhadap ideologi ekstrim yang sekarang dipaksakan.

Kami sama, berada di belakang Ahok tetapi bukan menjadi pembela individunya. Kami melihat apa yang dikerjakannya, bagaimana dia bekerja dan kami rasakan hasilnya. Kejujuran kami belum hilang ternyata, bahwa ketika seseorang itu berprestasi maka ia layak mendapat apresiasi. Ketika seorang pemimpin bekerja, maka kami siap menjadi penjaga.

Pertemuan yang menyenangkan dan tidak terasa sudah beberapa jam kami berbincang. Ada satu kesepakatan yang tidak tertulis tetapi tertanam, bahwa kami berada pada posisi berlawanan dengan kaum radikal. Dan kami berjuang di medan masing-masing sampai kami merasa lelah nantinya.

Ah, terimakasih Bimbim, Kaka dan Ivanka. Terimakasih mas Danny manajer mereka. Terima kasih bunda Ifet yang sudah sudi menerima saya. Dan terima kasih untuk Puja -Perempuan untuk Jakarta- yang sudah mengundang dan memberi kesempatan saya bertemu dengan idola saya.

Sambil seruput kopi, kuambil gitar dan mulai memainkan. "Terlalu Anis, untuk dilupakan... "