Jumat, 19 Mei 2017

GENERASI MILENIAL

Penulis
Afi Nihaya
Tiba-tiba saja beranda saya dipenuhi copasan tulisan seorang anak SMA, namanya Afi Nihaya Faradisa.

Judul tulisannya "Warisan". Menarik dan bagus sekali tulisannya. Saya masuk ke akunnya dan - wow - tulisan itu dishare 38 ribu orang. Akunnya sempat diretas dan sekarang sudah balik kembali.

Tulisan tentang warisan yang berbicara tentang agama itu menjadi menakjubkan ketika dikeluarkan oleh seorang anak SMA - mungkin kalau Gus Mus yang nulis, jadi biasa-biasa aja. Kita kaget, ternyata ada juga ya anak SMA yang bisa berfikir dewasa seperti itu..

Saya jadi ingat Gloria Hamel, anggota paskibra yang juga masih SMA. Dia datang dalam sebuah acara diskusi. Dia bercerita banyak tentang masalah pada remaja seusianya. Internet mengepung mereka dengan segala dampak baik dan buruknya.

Mengerikan -begitu kata Gloria- ketika ia mendapati teman-teman seusianya dalam pergaulan bebas dan pamer lekukan dan ciuman yang diupload ke youtube supaya dilihat banyak orang.

Disatu sisi, saya bertemu juga dengan banyak remaja SMA yang menjadi simpatisan FPI. Mereka berpakaian putih dan menutup wajahnya dengan kain putih seakan sedang berperang di Palestina. Mereka siap tawuran dengan siapa saja yang menghalangi mereka ketika sedang bersama-sama dengan kelompok garis keras.

Saya paham susahnya menjadi remaja seusia mereka. Ketika itu saya dikepung oleh ganja, minuman keras dan obat penenang bermacam2 dengan harga sangat murah, sama dengan harga sekeping kaset musik waktu itu. Sulit sekali mencari diri sendiri waktu itu, ketika lingkungan semua bergerak ke arah yang sama.

Karena itu saya salut dengan Afi dan Gloria..

Mereka bergerak dalam ruang yang berbeda, menentang arus dari liberalis yang keblalasan dan agamis yang menakutkan, dua kutub berbeda yang sama kerasnya. Afi dan Gloria berusaha menyeimbangkan keadaan dalam dirinya untuk berdiri ditengah dan berusaha bijak dalam bersikap.

Situasi yang membentuk mereka, menatah mereka ketika melihat keanehan2 yang terjadi dengan mata remaja mereka. Mereka menolak untuk menjadi "begitu-begitu" saja dan ingin tampil dalam bentuk yang berbeda.

Tidak banyak remaja yang sanggup seperti Afi dan Gloria. Kebanyakan larut dalam situasi, seperti teman-teman SMAku dulu yang meninggal karena overdosis heroin. Saya harus angkat topi kepada mereka..

Dan ketika kulihat anak perempuanku yang juga masih SMA, aku mendengar hal yang mengagumkan juga. Ia ternyata seorang penulis di blognya. Hanya tulisannya semua dalam bahasa inggris dan teman-teman pembacanya juga dari banyak negara.

Saya selalu percaya, bahwa benih yang baik akan tumbuh menjadi tanaman yang baik pula. Mereka akan menjadi apa yang mereka makan. Karena itulah saya selalu berusaha memberi mereka makanan yang baik pula, yang halal dan bersih dari segala model suap apalagi korupsi. Tidak ingin kukotori akal mereka dengan siraman harta haram dari hasil merampas hak orang.

Begitulah ketenangan para orangtua ketika mereka memahami sebab akibat dalam kehidupan. Tidak perlu cemas anak kita akan menjadi apa nantinya, selagi kita sirami mereka dengan semua yang baik dan halal..

Saya sendiri tidak paham, bagaimana bisa seseorang berkata bahwa "ini ujian Tuhan" ketika anaknya terperosok dalam kegelapan. Ia tidak sibuk mengupas dirinya sendiri dengan apa ia memberi keluarganya makan. Tuhan selalu menjadi pihak yang tersalahkan..

Ah, panggilan untuk naik pesawat sudah terdengar. Kuangkat ranselku, kuhabiskan cangkir kopiku.

Solo, aku datang...