Minggu, 28 Mei 2017

IKI SUROBOYO, CUK

Ngopi Bareng
Ngopi Bareng di Surabaya
Selesai sudah diskusi di Surabaya malam tadi..
Saya terharu ketika melihat tempat kecil diskusi kami di sebuah restauran, terisi penuh. Lebih terharu lagi ketika ada beberapa teman dari Madura, Malang bahkan Singapura, NTT dan Jeddah yang datang tadi malam..
Kami ngobrol banyak hal mulai dari situasi di Jawa Timur sampai Jakarta, juga potensi rusuhnya Indonesia saat pilpres nanti. Teman-teman dari Ansor juga datang dan diskusi di kawal oleh pasukan Banser NU.
Sambil berbicara di depan, saya menatap seluruh ruangan. "Inilah kotaku yang kubanggakan, Surabaya.." bisikku dalam hati. Surabaya memang layak dijuluki kota pahlawan. Disini gairah persatuannya kuat sekali. Tidak ada yang merasa lebih dibandingkan yang lain, semua etnis, ras dan agama hadir disini.
"Kalau ada teman-teman yang ingin mengadakan acara kebangsaan disini, lebih baik koordinasi dengan Banser dan Ansor.." kataku.
"Kaum sorban itu kalau melihat ada loreng Banser di depan, mereka berpikir panjang untuk membubarkan. Mulailah aktif dengan mengunjungi kantor GP Ansor, bergaullah dengan mereka dan jangan sungkan untuk minta bantuan mereka.
Tapi jika satu waktu mereka juga minta bantuan, jangan sungkan juga untuk membantu mereka..."
Hubungan yang terjalin baik antara warga dengan unsur kepemudaan dari NU ini memang harus mulai dipupuk dengan baik. Karena dari sekian ormas Islam yang ada, merekalah yang sudah selesai bab NKRI. Indonesia bagi NU ini bukan saja sebuah negara tetapi juga sebuah rumah yang wajib dijaga dan dilindungi.
Dan saya berharap banyak warga Surabaya memulai perjuangan melawan intimidasi ormas intoleran yang sekarang sedang marak di negeri ini.
Salah satu caranya adalah bekerjasama dengan Ansor dan Banser memberikan perlindungan terhadap intimidasi ormas radikal kepada masyarakat dengan menyediakan nomer khusus dan memberikan bantuan hukum kepada mereka yang di kriminalisasi dengan pasal "penistaan agama" dan "pencemaran nama baik".
Ini sangat penting, karena atas nama hukum, ormas intoleran ini sudah bergerak membungkam banyak suara yang berseberangan dengan mereka.
Kasus Dr Fiera Lovita di Solok Sumbar dan Dr Otto Rajasa di Balikpapan adalah kasus lemahnya koordinasi antar anak bangsa sendiri, sehingga barisan yang tidak rapat ini mudah dipecah oleh mereka.
"Jika sudah terbentuk kerjasama, umumkan melalui media massa. Jangan sungkan, beri pesan kuat kepada mereka bahwa silent majority sekarang melawan. Yang waras tidak selalu harus mengalah.." Kata saya menutup pembicaraan.
Saya jadi teringat perkataan Imam Ali bin abu thalib, "Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.."
Soliditas gerakan mereka, harus dilawan dengan soliditas yang sama pula. Sudah tidak bisa lagi abai terhadap situasi dan merasa semua aman-aman saja, karena bisa saja intimidasi ormas radikal itu satu waktu akan menimpa kita semua.
Guyubnya pertemuan di Surabaya tadi malam, membuat saya merasa di rumah. Pisuhan "cak dan cuk" membahana di seluruh ruangan membuat saya sangat betah.
Sudah seharusnya Surabaya mencanangkan diri sebagai kota yang memberikan perlawanan terhadap kaum radikal dan intoleran berbaju agama. "Iki Suroboyo, cuk.."
Saya jadi teringat, dulu ketika saya memberitahu bahwa Islam radikal yang berideologi wahabisme ini akan merusak hubungan persaudaraan kita dan saya dicemooh juga dijauhi teman lama.
Sekarang saya menemukan teman baru yang bahkan jumlahnya jauh lebih banyak dari teman-temanku dulu..
Hidup itu sangat menarik dengan segala rahasia-rahasianya...