Senin, 15 Mei 2017

MENANTI RAMADHAN

Ramadhan
Ramadhan
Ada banyak cara bagi manusia untuk mengikis dosa-dosanya yang sudah berkarat dan menghitam. Selain penyakit, kemiskinan, kepedihan dan rasa kehilangan juga ada terminal khusus untuk "membersihkan diri" dari segala maksiat yang sudah menempel dan jarang dibersihkan. 
Bagi umat muslim, terminal khusus itu dinamakan Ramadhan. Bulan Ramadhan disebut bulan suci karena dalam bulan ini manusia diberikan kesempatan yang besar untuk merenungi dosa-dosanya dan mengalahkan hawa nafsunya. Karena itulah manusia diperintahkan berpuasa, yang mempunyai arti luas dari sekedar lapar dan dahaga. 
Puasa bisa berarti menjauhkan diri dari keinginan duniawi yang banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu. 
Ke depan - dalam menyambut bulan Ramadhan ini - saya akan kembali membuat status renungan sesudah sekian lama berjibaku dengan semua analisa politik yang berakhir dengan rasa mual karena permainan kotor yang dilakukan segelintir orang atas nama kekuasaan. 
Mungkin Tuhan menyuruh mundur sejenak karena ada hal yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Semua membutuhkan proses dan biarkan proses itu menyempurnakan dirinya sendiri. Yang jahat semakin jahat dan yang baik berusaha baik, karena kejahatan dan kebaikan sama-sama menyempurnakan eksistensinya. 
Saya percaya bahwa negeri kita sedang mengalami proses pendewasaan, dan untuk itu dibutuhkan sedikit guncangan. Seperti gunung yang harus meletus supaya bisa menghasilkan tanah yang subur sesudah bencana.
Tuhan punya rahasiaNya sendiri dan lebih nikmat mengupasnya daripada sibuk berkutat mengamati kerakusan dunia yang tidak ada habisnya. 
Ini mungkin bulan Ramadhan yang paling saya nantikan..
"Puasa hati lebih baik dari puasa lisan. Dan puasa lisan lebih baik dari puasa perut.” Imam Ali as.