Jumat, 05 Mei 2017

PANGLIMA: "EMANG GUE PIKIRIN"

Gatot Nurmantyo
Jokowi dan Panglima TNI
Saya ingat sekali, waktu itu Jokowi diserang karena terlihat ragu-ragu memutuskan posisi Kapolri pada kasus BG...

Jokowi di bully oleh pendukung lawan politiknya. Ia dibilang "boneka" karena seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Dan para pendukung Jokowi mulai meragukan Presiden yang mereka pilih itu. Dari luar Jokowi tampak lemah dan tak berdaya dan seperti tidak mampu melakukan apa-apa.

Saya kemudian menulis tentang bagaimana sesungguhnya Jokowi bergerak dengan menganalogikan dia sebagai kuda di bidak catur., "Langkah kuda Jokowi".

Saya gambarkan bagaimana cara bertarung Jokowi yang tidak secara frontal menyerang, tetapi memutar, merangkul dan membunuh dalam keheningan. "Dia orang Solo.." begitu kata pembuka dalam tulisanku dulu.

Pada waktu saya menulis itu, banyak yang meragukannya. Bahkan jauh lebih banyak yang mengejek tulisan itu. Sesudah lebih dari setahun tulisan itu, terbukti bagaimana cara kerja Jokowi yang berbeda dengan Presiden sebelumnya - bahkan Gus Dur - yang langsung menghajar lawannya.

Ketika menonton wawancara Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Kompas TV, entah kenapa saya melihat gerakan yang sama. Langkah dia yang tidak frontal dalam menghadapi masalah dan cenderung memutar juga merangkul, mengingatkan saya kembali pada langkah kuda Jokowi.

Pada sesi wawancara dia dengan Rosi, terpancar kekaguman Panglima terhadap Jokowi sebagai orang yang "berani dan nekad". Dan kekaguman itu - mungkin - terpancar dari langkah-langkahnya ketika menghadapi situasi. Ia memakai langkah catur "Jokowi's style".

Langkah catur ala Jokowi memang membingungkan. Perlu waktu sedikit agak lama untuk merenung dan memikirkan "kenapa ia melakukan" itu ?

Dan sesudah kita tahu, seharusnya kita juga paham kenapa Panglima melakukan hal yang terlihat agak berseberangan dengan mendekati mereka yang termakan propaganda kaum radikal.

Panglima harus memainkan peran yang sesuai dengan tupoksinya. TNI itu menjaga keamanan dari serangan luar, sedangkan Polri tugasnya di dalam. Jadi TNI memang tidak bisa terjun langsung ketika ada masalah di dalam. Dibutuhkan kerjasama antara TNI dan Polri. TNI hanya berjaga2 sampai situasi betul2 mengancam.

Apa yang dilakukan Panglima TNI dengan merangkul dan mendekati mereka sudah betul. Karena ini akan meredam suasana. Dibutuhkan suasan yang teredam supaya Polri bisa bekerja menangkap aktor-aktor di balik layarnya.

Resikonya memang tidak enak. Panglima TNI dituding bahwa ia "dekat" dengan kaum radikal. Apalagi dari pihak sana kemudian mengelu-elukan dia. Jika sudah dielukan, berarti strategi ini berhasil. Tinggal menjaga tensi jangan sampai malah aparat dipecah oleh opini publik.

Tudingan yang dihadapi Panglima TNI sekarang bahwa ia lunak dan terlalu berpihak, sama seperti tudingan kepada Jokowi waktu itu ketika dijuluki boneka Megawati. Tetapi dalam wawancaranya dengan Kompas TV jelas dan tegas Panglima TNI mengatakan, "Yang mengontrol saya hanya Presiden sebagau Panglima Tertinggi.."

Cukup yakini itu dan hentikan semua pemikiran miring dan keraguan. Percayakan bahwa TNI dan Polri bisa mengawal situasi sampai 2019 nanti. Ini hanya permainan berselancar diatas gelombang..
Saya masih yakin bahwa Panglima tidak akan terprovokasi untuk melakukan tindakan yang tidak konstitusional.

Kalaupun banyak tudingan, seperti apa yang Panglima bilang sambil tertawa, "Emang gue pikirin..."
Seruput.