Jumat, 05 Mei 2017

PANGLIMA TNI, BERSELANCAR DI ATAS GELOMBANG

TNI
Gatot Nurmantyo
Lewat di beranda saya, banyak sekali pertanyaan tentang sikap Panglima TNI dalam wawancara dengan Rosi di Kompas TV.

Ada dua kubu yang berbeda pendapat. Satu dari kaum bumi bulat, yang memandang bahwa Panglima bersikap abu-abu bahkan condong membela gerakan aksi massa yang terjadi. Sedangkan satu dari kaum bumi datar yang merasa bahwa Panglima TNI berada di pihak mereka, dan semakin ganas lah mereka tereak dengan kebanggaan sebagai mayoritas.

Saya putar ulang video wawancara itu sebelum akhirnya membuat kesimpulan sendiri..

Jika saya berada pada posisi Panglima TNI, mungkin saya akan membuat keputusan yang sama dengan beliau...

Situasi gerakan massa yang -kita tahu- dikoordinir dengan sistematis, membuat opini publik terpecah dua, antara pro dan kontra. Dan saya -sebagai warga masyarakat- termasuk yang kontra.

Tetapi tidak bisa begitu jika saya berada pada posisi Panglima TNI...

Sebagai Panglima, tugas saya jelas adalah mengamankan negara dan Presiden sebagai simbol negara. Karena jika simbol ini rusak, maka rusak semualah proses demokrasi kita.

Dan untuk itu, saya harus terjun langsung ke lapangan memantau situasi yang terjadi. Saya melihat bahwa gerakan ini sangat berbahaya, jika ujungnya langsung disumbat. Ibarat pipa yg sedang mengalirkan air dengan deras-derasnya, pipa bisa pecah karena tekanan ketika ujung saluran mendadak disumbat..

Karena itu cara yang terbaik adalah membuat pipa baru dan menyambungkannya, lalu mengarahkan aliran air deras itu ke tempat aman.

Begitulah yang dilakukan Panglima TNI saat ini melalui proses apa yang dia namakan "Komunikasi". Supaya tekanan itu mencair. Panglima melakukan komunikasi dengan gaya berbicara seperti mereka, memakai aksesoris seperti mereka, supaya diterima menjadi bagian dari mereka. Dan ketika Panglima sudah menjadi bagian dari mereka, maka proses komunikasi pun menjadi mudah.

Panglima akan lebih mudah mengarahkan tekanan massa ini ke tempat yang lebih aman melalui persahabatan dengan mereka. Itulah tugas utama yang dilakukan Panglima TNI dengan jajarannya..

Sedangkan untuk masalah hukum, itu sudah bukan urusan Panglima karena disana ada Polri. Panglima hanya menahan gerakan supaya tidak membesar dan pecah, sambil memberi kesempatan Polri menuntaskan tugasnya.

Akibatnya memang buruk bagi Panglima. Ia dituding berada di pihak yang kontra dengan pemerintah. Dan ia harus menelan semua tudingan itu, karena tujuan utamanya adalah mengamankan negara.

Tudingan ini diperkeruh dengan catatan dari Allan Nairn yang bercerita bahwa ada "gerakan" di TNI sendiri untuk melakukan kudeta.

Catatan Allan Nairn -yang merupakan opini pribadinya dia- membuat situasi semakin terbelah dua berdasarkan opini publik, yaitu kubu TNI dan kubu Polri. Entah ini bagian dr skenario untuk semakin membelah kita, hanya Allan Naim dan Tuhan yang tahu maksudnya.

Pada dasarnya sulit sekali bagi Panglima TNI untuk ikut "makar" bersama kelompok radikal. Karena pertanggung-jawabannya besar dan tidak mudah. Iya kalau berhasil, tapi kalau gagal? Beliau bisa dihukum mati.

Karena itu saya percaya bahwa Panglima TNI pun sedang berjuang dengan caranya sendiri untuk mengamankan negara kita. Langkah-langkahnya mungkin tidak banyak diterima oleh banyak pihak, tetapi itulah langkah yang terbaik untuk saat ini.

Kalau saya istilahkan apa yang dilakukan Panglima TNI saat ini adalah berselancar diatas gelombang besar. Daripada dihadapi dengan resiko yang besar, main selancar aja diatasnya..

Adapun jika itu dikaitkan dengan safari politik Panglima menuju 2019 nanti, kenapa tidak boleh? Sah-sah saja, toh manusia punya kehendak sendiri asal sesuai konstitusi.

Jadi, mari kita seruput kopi sambil terus memantau perkembangan situasi sekarang ini. Saya malah melihat cara pemerintah sudah berhasil. Buktinya aksi demo sekarang sudah kempes pes pessss.

Bertindak bukan hanya memukul, tetapi juga merangkul. Yang provokatif di antara massa cuman beberapa orang saja, sedangkan mayoritas lainnya adalah orang awam yang tidak tahu apa-apa, hanya semangat aja..


Tonton video ini untuk yang punya kuota. Yang ga punya, beli yaaa.. Semoga kapal besar bernama Indonesia ini, selamat sampai di tujuan ya Panglima.