Rabu, 31 Mei 2017

RIZIEQ SHIHAB & AYATULLAH KHOMEINI

FPI
Habib Rizieq
Kenapa Habib Rizieq ingin kepulangannya disambut seperti Ayatullah Khomeini? Untuk itu kita harus membuka kembali sejarah salah satu revolusi terbesar di dunia di tahun 1979. 
Pada masa sebelum tahun itu, Iran adalah negara monarkhi atau kerajaan. Dipimpin oleh Shah Reza Pahlevi, Iran berteman dekat dengan Amerika - seperti Saudi sekarang. 
Iran adalah negeri para mullah - atau para ulama. Begitu religiusnya masyarakat Iran, sehingga mereka tunduk dan taat apa perkataan ulama. 
Shah Reza yang sangat barat tidak menyukai ini, karena ini akan merongrong kekuasaannya. Lalu mulailah ia melakukan kontrol terhadap para ulama. 
Salah satu ulama besar Iran pada waktu itu adalah Ayatullah Ruhullah Khomeini. Ayatullah adalah gelar tertinggi ulama disana, mirip Professor dalam dunia pendidikan. Tekanan yang dipaksakan Shah Reza Pahlevi jelas membuat para ulama disana melakukan perlawanan. 
Dan akibatnya adalah Ayatullah Khomeini diasingkan ke Irak kemudian ke Perancis. Ayatullah Khomeini adalah lambang revolusi bagi masyarakat Iran. Pidato-pidatonya -meski ia ada di pengasingan- adalah sesuatu yang ditunggu. Suaranya sangat berpengaruh. 
Pidato Ayatullah Khomeini menemani awal-awal demonstrasi besar rakyat Iran saat terbunuhnya seorang khatib oleh pasukan pemerintah dan saat demonsttasi besar tahun 1978 yang dikenal dengan nama Black Friday. 
Sesudah Black Friday, gelombang demonstrasi semakin kuat dan semakin membesar seiring pulangnya Ayatullah Khomeini yang disebut sebagai Imam Besar disana. Jutaan orang memenuhi jalan dan berakibat lumpuhnya negara Iran dan membuat Shah Reza Pahlevi tunggang langgang. 
Maka berakhirlah sistem monarkhi di Iran dan berubah menjadi Republik Islam Iran pada tahun 1979 sesudah melalui referendum yang disetujui oleh lebih dari 98 persen masyarakat Iran. 
Jadi dari sini kita melihat betapa HRS ingin sekali disambut seperti Ayatullah Khomeini dan kemudian kepulangannya akan membangkitkan revolusi seperti di Iran. 
Sayangnya, HRS tidak mau melalui proses pengasingan belasan tahun supaya mematangkan revolusi di Indonesia. Seandainya HRS mau diasingkan dulu ke Suriah, Uganda, Nigeria dan -kalau mau- ke Kutub utara, mungkin ia bisa seperti Ayatullah Khomeini mengatur rencana revolusi. 
Ayatullah Khomeini dikenal sebagai pribadi yang bersih baik dari sisi kehidupannya juga sisi rumah tangganya. Tidak ada cacat sedikitpun dalam kehidupannya, sehingga mayoritas rakyat Iran percaya pada ulamanya. 
Kalau diperhatikan, HRS perbandingannya 11-12 dengan Ayatullah Khomeini. Hanya sedikit selisih saja, satunya 11 dan satunya 12 juta. 
Satu catatan lagi, Ayatullah Khomeini ketika wafat, pemakamannya dihadiri 9 juta masyarakat Iran yang datang dari berbagai wilayah dan kumpul di Teheran. 
Semoga nanti ada juga 7 juta orang yang cukup kumpul di Monas saja. Loh kok malah jadi mendoakan wafat?