Kamis, 11 Mei 2017

SAUDARA DALAM KEMANUSIAAN

Sejuta lilin
Sejuta Lilin untuk Ahok, Jakarta dan Manado
Seorang teman menyapa, "Datang ya nanti di tugu proklamasi. Malam ini doa bersama untuk Ahok dan matinya keadilan".

Sayapun berangkat. Entah apa yang menggerakkan kaki ini.

Masuk ke pintu gerbang, lautan manusia sudah berkumpul. Sempit berdesak-desakan, ditambah cuaca panas. Saya menerobos mendekati panggung dimana sedang disampaikan doa oleh beberapa pemuka agama berbeda. Dari Islam ada Gus Nuril, seorang pendekar sekaligus ulama.

Saya duduk dan mengamati lalu lalangnya manusia. Merinding dibuatnya. Mereka datang dari jauh -tanpa dibayar- dan berkumpul di titik yang sama.

Keindahan tampak dari begitu banyak ras dan suku yang berbeda dalam satu wadah. Seperti pelangi, tidak pernah bosan melihatnya. Karya agung Tuhan dalam penciptaan manusia dengan berbagai golongan dan warna kulit yang tidak sama.

Lalu apa yang menggerakkan kami kesini ?

"Cinta.." Kata temanku Eko Kuntadhi.

Kecintaan kita akan negara ini yang baru saja diperkosa oleh ketidak-adilan putusan seorang hakim yang seharusnya menjadi "tangan Tuhan" dalam perkara hukum manusia, menggerakkan kami. Islam, Kristen, Budha, Hindu bahkan agama kepercayaan pun datang disana.

Ketika kami spontan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, tampak jelas kami melebur menjadi satu, anak Indonesia. Semua hapal, semua menyanyi dengan semangat di dada. Tidak tampak apa suku kami, ras kami apalagi agama kami.

Lalu, setan apa yang ingin mengoyak keindahan ini? Yang hanya ingin melihat semua dalam warna hitam dan putih?

Ah, Ahok... Terima kasih. Jika bukan karenamu, kami belum tentu menjadi satu. Kebaikan mengandung magnet untuk menarik kebaikan. Manusia berkumpul dengan jenisnya, begitu juga kejahatan.

Lilin menyala di Jakarta. Begitu juga di Jogja, Semarang, Manado, NTT, Batam dan entah di mana lagi. Semua menangisi dan mengutuk manusia yang mempermainkan hukum hanya karena kebencian.

Seharusnya manusia itu seperti sebatang lilin. Ia menerangi sekitar dengan cahayanya yang terbatas, untuk kemudian lumer dan hilang ditelan masa. Tetapi cahayanya akan selalu diingat.

Teringat perkataan Imam Ali pada satu waktu, "Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.."

Kita semua sesungguhnya adalah saudara, kawan.