Jumat, 26 Mei 2017

SECANGKIR KOPI PENYAMBUT RAMADHAN..

Puasa
Ramadhan
Ada pertanyaan menarik yang mampir di inbox. "Menurut abang, selain dari ritualnya, makna dari bulan puasa itu apa sih?"

Saya pernah menulis ini dan akan saya tulis lagi sebagai pengingat untuk diri sendiri. Supaya ketika masuk di bulan Ramadhan - bulan yang diyakini suci oleh umat muslim ini - saya tidak hanya sibuk pada ritualnya saja tetapi lebih meresap dalam diri.

"Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang sedangkan hambaNya adalah pengepul dosa.. " Aku memulai tulisanku membalas pertanyaan dia.

"Karena itu, Tuhan menyediakan banyak fasilitas untuk hambaNya yang setiap detik mengepul dosa, supaya bisa mengikis dan membersihkan diri dari sebagian dosanya.

Fasilitas yang disediakan dalam hidup manusia mulai dari penyakit, rasa kehilangan, kemiskinan sampai penderitaan. Ini fasilitas untuk mengikis dosa yang sudah menempel di jiwa bahkan sudah berkarat.

Proses pengikisan itu biasanya sakit dan nyeri, ibarat luka kering di kulit yang dikelupas keluar.."
Aku menatap rokok didepanku. Teringat perkataan seoran dokter temanku, "Kalau lu gak stop rokok itu, hidup lu gak akan lama lagi.." Miris dengarnya. Tapi aku butuh sebagai pelampiasan energi yang terus menerus meletup dalam diriku. Kubuang sejenak bayangan rokok itu dan mulai ku menulis lagi..

"Selain proses-proses yang menyakitkan itu, Tuhan juga menyediakan terminal-terminal khusus untuk manusia membersihkan diri dari dosanya.

Dan salah satu terminal yang paling besar dan paling efektif membersihkan dosa manusisa adalah bulan Ramadhan. Makanya ia disebut bulan suci..

Tuhan menyediakan terminalnya, tetapi untuk bisa masuk dan membersihkan diri disana ada syaratnya yaitu berpuasa dari segala hawa nafsu yang selama ini menyelimuti jiwa manusia. Hawa nafsu inilah sumber dari segala dosa yang diperbuat manusia..

Ketika hawa nafsu manusia berhasil dikandangkan pemiliknya, maka proses pembersihan jiwa pun menjadi lebih sempurna. Seperti seseorang yang sedang mandi telanjang dibawah pancuran besar membersihkan dirinya dari lumpur kemaksiatan selama setahun dimana ia terus berkubang.."

Berhasil kutahan nafsu merokokku. Entah karena bosan atau mulai takut akibatnya.. Entahlah. Kulanjutkan saja menulis jawabannya..

"Proses pembersihan ini tergantung dari seberapa besar dosa manusia dan seberapa niat ia ingin membersihkan dirinya.

Ada yang sangat berniat sehingga sungguh2 membersihkan dirinya dan ada juga yang cuman mampir sejenak dibawah pancuran sekedar kena air dan berharap dirinya bersih seluruhnya..

Karena itu - bagi mereka yang mengerti - bulan Ramadhan ini dijalankan dengan sungguh-sungguh dalam menekan syahwat atau hawa nafsunya. Dan hawa nafsu terbesar yang harus dikalahkan adalah sombong, karena ia benih dari segala kemaksiatan di bumi ini.."

Sesudah selesai menulis, kutinggalkan sejenak gadgetku dan mulai sibuk menyelesaikan buku terbaruku yang rencana akan kuluncurkan bulan Ramadhan ini.

Sebuah perenungan yang kukumpulkan dalam judul "Bukan Manusia Angka". Sebagai pengingat dan pembantu untuk mengupas kesombongan yang selama ini menjerat diriku..
Tidak lama kemudian terdengar notifikasi balasan.

"Apakah mungkin dosa manusia bersih seluruhnya ketika mandi di terminal Ramadhan itu ?"
Aku tersenyum. Kenapa manusia suka sekali mengira-ngira sebuah hasil bahkan ketika ia sering berbicara bahwa hasil itu bukan hak preogratif manusia ?

"Serahkan semua pada Tuhan, apa dan bagaimana hasilnya. Sesungguhnya manusia itu hanya diperintahkan untuk berusaha.." Tulisku mengakhiri pembicaraan kami.


"Allah berfirman : Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.." Rasulullah SAW.