Rabu, 07 Juni 2017

BUKU INI UNTUK AHOK

Ahok
Bukan Manusia Angka
Tiba-tiba lewat sebuah bayangan yang tidak akan pernah saya lupa. Namanya Ahok. Dia tampak lebih kurus dan dewasa. Dia tersenyum dengan keikhlasan seorang yang sedang menjalani salah satu proses yang terpahit dalam hidupnya.

"Hei, bagaimana kabarmu?" Sapaku. Dia menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai tanda sedang menikmati situasi. "Tidak lebih baik dari sekarang ini.. " Jawabnya.

Aku menatap sosok yang selama ini menghiasi tulisan-tulisanku dengan langkahnya yang fenomenal bahkan menjadi anomali ditengah kebiasaan negeri ini akan kecurangan. Sosok yang tegas, keras tapi tidak kehilangan sisi humorisnya.

Ia sedang membaca Injil. Pegangan hidupnya selama ini. Mungkin ia sedang menghayati perjalanan Sang Yesus. Yang berakhir dengan kepahitan yang lebih darinya tetapi tetap ikhlas menjalaninya. Demi umatnya.

Ahok sedang mengupas dirinya. Selapis demi selapis. Dibalik sisi kebenaran langkah seseorang, selalu ada nafsu yang mengalahkannya. Inilah yang ingin dicari dan dikalahkannya.
Dan Tuhan tahu, maka ia diberi tempat yang sunyi untuk berfikir tentang dirinya..

"Semua orang bisa kaya. Semua orang bisa berharta. Tapi tidak semua orang diingat karena fungsinya.." Begitu kata ayahku dulu. Dan Ahok termasuk manusia yang berusaha mati meninggalkan nama.

Pertarungan terbesar Ahok dimulai. Ia harus bertempur dengan dirinya. Dan kita harus menghormati apa yang sedang dilakukannya. Memberi ruang supaya ia mengenal dirinya.

"Buku ini untuk Ahok.." Kataku kepada seorang teman.

"Seorang pejuang yang kuhormati bukan karena kemenangannya, tetapi karena perlawanannya. Karena kemenangan bisa diraih dengan segala cara, tetapi jejak perlawanan-lah yang bisa membuktikan seseorang itu menang atau kalah.."

Sampai sekarang, aku masih rindu dengan semua keterlanjangan dirinya yang sulit dipahami oleh banyak orang..

Ia bukan manusia angka..