Minggu, 11 Juni 2017

GUS YAQUT & ANSOR

Gus Tutut
Yaqut Cholil Qoumas
Nama aslinya Yaqut Cholil Qoumas..

Meski ia populer dengan panggilan Gus Tutut, saya tetap memanggilnya dengan nama Gus Yaqut. Ia putra dari KH Mochamad Cholil Bisri dan keponakan KH Mustofa Bisri atau kita kenal dengan panggilan Gus Mus.

Saya mengamati sepak terjangnya sejak Gus Yaqut dilantik menjadi Ketum GP Ansor, organisasi kepemudaan di NU tahun 2015 lalu. Saya dengar dulu ia suka berantem, ciri khas seorang "pemberontak" yang pada akhirnya akan bersinar menjadi orang besar.

Nama Gus Yaqut melejit ketika ia melakukan gebrakan penghadangan ormas radikal di beberapa tempat dan wilayah di Indonesia. Ia juga tampaknya geram ketika ormas radikal itu mencatut nama "Islam" sebagai pembenaran tindakan anarkisnya.

GP Ansor dibawah pimpinannya, bisa dibilang sangat berperan dalam situasi yang paling genting di Indonesia.

Yang bisa saya catat, pada saat gerakan 212 yang diperkirakan akan chaos, Ansor dan Banser menghimpun massa dari berbagai wilayah sampai 300 ribu personel ke Jakarta, bukan untuk demo tetapi mengamankan demo.

Hampir semua biaya operasional dari kantung mereka sendiri. Tujuan mereka jelas, mengamankan NKRI.

Kita harus banyak berterima-kasih pada Ansor dan Banser, karena dengan adanya mereka saat demo-demo besar itu, demo bisa berjalan dengan aman. Jumlah mereka yang besar yang berada dalam barisan demo, menyeimbangkan kekuatan sehingga tidak pecah menjadi keributan.

Satu statement menarik dari Gus Yaqut pada saat Pilgub DKI kemaren adalah, "Kami (Ansor dan Banser) menolak Calon Gubernur yang didukung Islam radikal!"

Statement yang membuat saya sangat lega, karena Ansor berhasil mengidentifikasi siapa kawan dan mana lawan. Radikalisme adalah musuh bersama, dan siapapun yang didukung mereka, kita wajib menolaknya.

Dan dari sini saya bisa melihat dengan jelas, bahwa GP Ansor dan Banser akan berperan besar dan aktif saat Pilpres 2019 nanti...

Meskipun tenggelam dalam hiruk pikuknya pilkada DKI, saya tidak lepas mengamati sepak terjang GP Ansor. Mereka ternyata bertarung dimana-mana, di hampir seluruh wilayah Indonesia, menghadang HTI & FPI.

Bahkan mereka sempat bentrok dengan kedua ormas berbahaya itu, tetapi tidak menjalar menjadi kerusuhan. GP Ansor dan Banser mampu menahan diri dan tangan mereka untuk tidak memukul lawan - yang notabene adalah saudara sebangsa mereka sendiri - meski saya tahu mereka sudah gatal untuk menghajar tindakan-tindakan arogan dari ormas2 itu.

GP Ansor juga yang memaksa pemerintah untuk membubarkan HTI. Jadi untuk yang memfitnah bahwa dengan pembubaran HTI Jokowi menjadi "musuh Islam", kalian harus tahu bahwa pemerintah hanya mengeksekusi saja. GP Ansor yang berada di balik keputusan yang berani itu..

"Kenapa harus GP Ansor ?" Tanya seorang teman ketika saya menulis bahwa antivirus dari radikalisme yang dibawa ormas radikal itu adalah GP Ansor.

Saya menjawab, "GP Ansor adalah kumpulan anak muda militan yang terorganisir. Mereka satu komando dan berada di bawah bimbingan kiai sepuh NU. Kita tidak bisa melawan radikal-radikal itu dengan nasehat-nasehat kiai sepuh NU, tidak mempan. Fight fire with fire...

Anak-anak muda di GP Ansor inilah calon penerus struktural di NU selanjutnya.."
Dan Gus Yaqut berada pada waktu dan tempat yang tepat memimpin GP Ansor ketika negara sangat membutuhkan kehadiran mereka.

Dalam pertemuan di satu tempat, saya melihat bahwa Gus Yaqut ternyata sangat ramah dan humoris dibalik pedas dan tegas statemennya saat berhadapan dengan ormas radikal.

Sambil ngopi dan ngudud bak kereta laju kencang - khas orang NU - kami bercerita banyak hal sambil mentertawakan dangkalnya pemikiran para sunbu pendek dan kaum bumi datar dalam memahami agamanya.

Jika Bung Karno berkata, "beri aku 10 pemuda, akan kuguncang dunia.." maka Gus Yaqut adalah salah satunya.


Saya harus angkat secangkir kopi untuk satu sosok ini..